Bisnis Ritel Kita Memasuki Masa-masa Senjakala (4)

02 April 2018 13:28

Ditengah isu sepinya pusat belanja, General Manager Leasing Mall Grand Indonesia, Theresia Setiadjaja memastikan jika tingkat okupansi Grand Indonesia tetap stabil berada di angka 98,5 persen. Menurutnya berbagai alasan paritel besar menutup gerainya di sejumlah mal. “Ada yang tutup sementara dan mereka akan kembali buka lagi, ada yang sedang konsolidasi bisnis, penggantian manajemen/kepemilikan, tapi ada juga yang memang brand-nya tidak relevan atau tidak bekerja di Indonesia,” urainya.

General Manager Marketing Communication Grand Indonesia, Kantoro Permadi mengatakan tetap tingginya jumlah pengunjung Grand Indonesia tak lepas dari konsep dan inovasi yang tak henti-hentinya dilakukan. Mulai dari menggabungkan berbagai produk fast fashion pada area tertentu, menghadirkan food print yakni, menggabungkan 40% tenan baru dan 60% tenan lama, menjaring loyality member dalam G Card, menyediakan lokasi parkir khusus yang bisa dipesan lewat aplikasi, hingga menghadirkan multilingual customer service guna melayani cutomer berbahasa mandarin, arab, jepang dan perancis.

Dengan berbagai jurus yang dilakukan, berdampak positif pada pengunjung yang meningkat signifikan periode Desember 2017. “Customer kita Desember 2017 hampir 2,5 juta padahal tahun sebelumnya 2,350 juta. Kl jumlah pengunjung saat weekday sekitar 68 ribu dan 81-85 ribu saat weekend,” jelasnya.

Sementara itu terus tumbuhnya bisnis online shop memang belum terlalu berProyeksi dampak pada pusat perbelanjaan high end. Meski demikian, Theresia mengaku, inovasi yang dilakukan online shop sangat inovatif. Bahkan ada brand online shop tertarik menyewa tenan untuk membuka gerai offline di mall yang memiliki 370 tenan itu. “Mereka (online shop) juga tahu bahwa yang datang ke mal juga calon customer mereka. Sehingga mereka tertarik buka offline, hanya saja belum adanya space-nya,” tambahnya.

Menanggapi banyaknya pusat kelas menengah menengah dan menengah bawah yang mengalami penurunan jumlah pengunjung. Kantoro Permadi mengatakan, semua kembali bagaimana sebuah pusat perbelanjaan memenuhi keiginan konsumen.
“Saat ini konsumen sangat cerdas, banyak referensi dari internet tentang tempat belanja, tempat kuliner bahkan banyak yang belanja ke luar negeri. Jadi sebagai pengelola mal kita harus terus memberikan apa yang diinginkan konsumen. Disitu challenge- nya,” tukasnya. Lebih lanjut Theresia mengungkap, ke depan mal atau pusat belanja sudah menjadi fashion and dinning destination yang menawarkan lifestyle dan experience. “Kalau dulu mal itu melakukan rejuvenation tiap 10 tahun sekali, sekarang planning dibuat setiap 5 tahun sekali. Bahkan jka ada tren baru, harus mengubah atau mempercepat konsep,” ujarnya

Senada dengan Theresia, General Manager Pondok Indah Mall Eka Dewanto mengatakan melihat apa yang kebutuhan konsumen adalah salah satu kunci mempertahankan tingkat kunjungan customer. Salah satu yang dilakukan Pondok Indah untuk tak ditinggalkan konsumennya adalah dengan membangun Street Gallery yakni tempat makan yang buka hingga malam hari. “Awalnya kami akan menambah ritel, tapi secara simultan kita pelajari banyak yang butuh kuliner hingga larut malam, sehingga kami mengubah konsepnya. Kami buka pusat kuliner yang buka hingga pukul 12 malam saat weekday dan pukul 02.00 saat weekend,” ujarnya.

Sebagai mal yang awalnya membidik segmen family, terus menghadirkan konsep baru seperti membuka Pondok Indah Mall 2 yang lebih menyasar fashion premium, menghadirkan kolam renang satu-satunya di mall hingga menghadirkan atraksi trapeze yakni atraksi lompat-lompatan di udara yang mampu meningkatkan jumlah kunjungan customer secara signifikan.

Menurut catatan Eka, data penjualan ritel pada tahun 2015-2016 mencapai 65 triliun dalam satu tahunnya. Sekitar 1,4% dari total penjualan ritel nasional berasal dari bisnis daring online shop. “Melihat data ini market online cukup bagus, tapi magnitudenya belum seperti Negara-negara di Amreka, Eropa dan China yang sudah sampai 2 digit,” ujarnya.

Menurutnya ada beberapa produk yang sangat terimbas bisnis online shop, namun banyak juga produk yang tidak bisa didapatkan melalui online utamanya produk yang memiliki feel, touch, human needed experience, dan lifestyle. “Salah satunya saja resto. Ada juga produk kesehatan dan kebugaran yang akhirnya kembali membuka gerai offline, setelah sebelumnya memilih fokus online. Alibaba dan Amazon saja mereka buka offline, berarti pasar offline tidak akan mati,” ungkapnya.

Menurut Eka Indonesia akan mengalami population boom periode 2020-2025 sehingga Indonesia merupakan pasar yang sangat besar. Tak heran jika banyak brand-brand luar negeri siap masuk pasar Indonesia mulai dari fashion hingga sport.

Dengan berbagai gagasan yang inovatif dan memberikan pelayanan yang memuaskan konsumen, hingga kini Pondok Indah mal masih memiliki tingkat okupansi 98%. Menurut data parkir mobil di Pondok Indah Mall dalam setahun jumlah pengunjung mencapai 6,5 juta. “Kalo dihitung yang drop off, kendaraan umum, motor dan lainnya angka tersebut dikalikan 3,5-4 kalinya,” tambahnya.

Ke depan pusat perbelanjaan dalam Group PT Metropolitan Kentjana ini pun siap memasarkan Pondok Indah Mall 3 pada 2020-2021 mendatang. “Kami akan bangun mal dan beberapa tower perkantoran yang akan terhubung dengan PIM 2 baik lewat sky bridge maupun parkir tunel. Sedangkan di atas PIM 2 siap beroperasi Hotel Intercontinental di tahun ini,” jelasnya. MPI DR

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia