Menjaring Konsumen Potensial dari Pembeli End User (2)

18 May 2018 13:31

Kalau dari sisi harga jual, saat ini paling banyak ditransaksikan adalah rumah seharga di bawah Rp1 miliar. Preadi mengatakan saat ini pembeli rumah di ISPI Group 95% adalah end-user, menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan harga rumah yang paling laku di bawah Rp500 juta. ISPI Group saat ini menyediakan rumah seharga mulai dari Rp300 juta hingga Rp2 miliar.

Sementara Ciputra Development tahun lalu rumah dengan harga di bawah Rp2 miliar mendominasi total penjualan hingga 70%. “Jadi pasar properti secara volume turun, tetapi ini ditopang oleh volume dari unit price yang murah yang berasal dari end user,” terang Tulus Santoso, Direktur PT Ciputra Development Tbk.. Makanya tahun ini Ciputra Development akan kembali membidik end user dengan daya beli pada harga di bawah Rp1 miliar. Proyek yang akan mereka geber di Makassar (Sulawesi Selatan), Cibubur (Jakarta) dan Batam (Kepulauan Riau).

Direktur Ciputra Grup, Harun Hajadi mengatakan dari target penjualan tahun ini senilai Rp8,5 triliun masih dapat diraup dengan banyaknya pembeli bermotif end user yang mengeksekusi niatnya membeli rumah. “Investor stagnan. Belum mau melakukan konsumsi untuk yang sifatnya tambahan. Tetapi kalau mereka yang memang membutuhkan rumah, pasti akan mencari, katanya.

Agung Wirajaya, Assistant Vice President Head of Strategic Residential Marketing Division PT Agung Podomoro Land Tbk. (APL), mengungkapkan hal senada. Dalam proyek terbaru perseroan seperti Podomoro Park Bandung, APL fokus membidik end user, bukan pembeli investor yang berspekulasi di bisnis properti. Menurut dia, pengembang dituntut menciptakan komposisi yang sehat dalam segmen pasar yang dituju. Untuk itu dalam satu proyek yang diluncurkan APLN setidaknya akan membidik 70% segmen end user.

Sebaliknya, segmen investor menjadikan hunian sebagai sebuah komoditas yang diharapkan mendatangkan profit dalam dua tahun. Meski produk dan pasar belum terbentuk secara matang, mereka akan tetap menjual hunian secara bersamaan.

Dampaknya, harga properti justru akan jatuh dan pengembangan kota terancam tidak berjalan sesuai harapan. Selain itu APLN juga berupaya mengisi celah pasar yang belum disentuh oleh pengembang lain. Dalam proyek baru, perseroan membidik end user di segmen menengah dan menengah atas dengan harga jual yang masih dapat dijangkau meski masih di atas Rp1 miliar per unit. Agung tidak menampik jika proyek juga membidik calon pembeli dari wilayah Jabodetabek selain warga dari sekitar Bandung atau kota-kota lain.

Sementara PT Jaya Bumi Cakrawala, anak usaha JHL Group memasang target penjualan hunian vertikal Carstensz Residences 50% untuk investor dan 50% untuk end user. Marketing Director PT Jaya Bumi Cakrawala Poppy Sayogo mengatakan hunian vertikal di kawasan Serpong ini memiliki persentase yang berimbang antara end-user dengan investor.

Dia mengatakan keseimbangan ini dikarenakan pengembang tak ingin apartemen dikuasai oleh investor saja. “Kita tak mau semua yang beli investor. Di daerah sini banyak juga end-user yang membeli Carstensz untuk langsung huni seperti Penthouse dan Townhouse,” ungkap Poppy.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia