25 Top Developer 2017: Strategi Bertahan di Tengah Tekanan (Majalah Properti Indonesia Edisi Januari 2018)

04 September 2017 10:52

Majalah Properti Indonesia (MPI) menurunkan liputan tentang 25 Top Developer Indonesia yang mencatat kinerja positif di tengah tekanan pertumbuhan bisnis properti. Edisi cetak dapat diperoleh di agen dan toko buku. Edisi digital dapat diakses melalui https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

Dalam ulasannya MPI menyebutkan hingga memasuki babak akhir di Tahun 2017, sejumlah developer masih mampu menorehkan kinerja positif, meski beberapa developer lainnya justru gagal dan berdarah-darah dalam mempertahankan prestasi mereka. Komposisi penghuni top 25 developer pun mulai berubah bila dibandingkan dengan kinerja pada paruh pertama 2017 lalu. Ada yang menjadi pendatang baru, meski tidak sedikit yang terhempas.

MESKI benar-benar belum sepenuhnya hilang, ’jelaga hitam’ yang bergelayut pada langit industri properti tanah air, sepertinya perlahan-lahan mulai berpendar di penghujung musim 2017 lalu. Beberapa indikator positif tersebut antara lain; pertumbuhan ekonomi, keyakinan daya beli, pengembangan infrastruktur serta kebijakan-kebijakan pemerintah dalam mendukung iklim investasi. Pada triwulan ke-II 2017, misalnya. Pertumbuhan

investasi tercatat sebesar 5,35% (yoy). Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, bahkan memprediksi jika pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5,1-5,5 persen pada 2018. Menurut Agus, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018 masih ditopang oleh sektor investasi, konsumsi dan ekspor yang tetap kuat. Terutama dengan naiknya investasi swasta.

Secara umum, sektor properti di Indonesia sepanjang 2017 masih terkonsentrasi di kawasan Jabodetabek dan para pengembang masih cenderung untuk melanjutkan proyek- proyek properti yang sudah dalam tahap pembangunan atau under-construction, meski beberapa pengembang lainnya tetap meluncurkan proyek-proyek baru walau tidak signifikan. Hal ini sehubungan dengan kondisi ekonomi dan pasar properti yang secara umum memang masih tertekan.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia pada triwulan III-2017 mengindikasikan bahwa harga properti residensial di pasar primer tumbuh, meskipun melambat jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan III-2017 yang tumbuh sebesar 0,50% (qtq), lebih rendah dibandingkan 1,18% (qtq) pada triwulan sebelumnya.

Kenaikan harga properti terjadi pada semua tipe rumah, dengan kenaikan terbesar pada rumah tipe menengah. Berdasarkan wilayah, kenaikan tertinggi terjadi di Bandar Lampung. Secara tahunan, indeks harga properti juga tumbuh sebesar 3,32% (yoy), lebih tinggi dibandingkan 3,17% (yoy) pada triwulan sebelumnya.

Sementara itu, volume penjualan properti residensial juga mengalami peningkatan sebesar 2,58% (qtq), walaupun masih melambat jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,61% (qtq). Hal tersebut sejalan dengan masih terbatasnya permintaan terhadap rumah hunian, di samping faktor suku bunga KPR yang masih relatif tinggi.

Untuk menyiasati kondisi pasar properti yang melambat, pengembang perlu mempertimbangkan psikologi dan daya beli konsumen agar produk mereka terserap pasar. Oleh karena itu, pengembang memerlukan strategi pelunakan pembayaran yang dapat diterima konsumen secara keseluruhan ataupun fully furnished sehingga mudah ditempati ataupun disewakan. Menakar Kinerja 2017

Riset yang dilakukan Properti Indonesia, mencatat, hingga sembilan bulan pertama tahun 2017, sebagian besar pengembang mencatatkan pertumbuhan kinerja rata-rata hingga di atas 15%, meski tak sedikit yang mencatatkan hasil negatif.

Dari sejumlah perusahaan properti pilihan yang dirangkum Properti Indonesia berdasarkan laporan Triwulan III – 2017, sebanyak 25 pengembang diantaranya masih memposisikan diri sebagai penguasa pasar properti nasional kurun waktu 3 tahun terakhir (lihat: tabel 25 pengembang dengan penjualan terbesar). Pemeringkatan ini mengacu pada nilai penjualan (market revenue) yang dicapai masing-masing korporasi dalam periode tersebut.

Segelintir konglomerasi properti inilah yang konsisten menjadi penyuplai dan penguasa pasar mega proyek properti dalam negeri mulai dari perumahan, apartemen, pengembangan kawasan berskala kota baru, superblok, hotel, resort, kawasan industri hingga pusat perbelanjaan.

Menurut catatan Properti Indonesia, sejumlah perusahaan yang berhasil mencatat pertumbuhan sales revenue positif adalah pengembang yang menghabiskan penjualan sisa proyek yang telah dibangun pada tahun-tahun sebelumnya, khususnya sub sektor apartemen. Sementara, perusahaan yang baru memasarkan produk awal tahun 2017 masih berada di bawah tekanan yang cukup berat. MPI Riz (Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia