Bali, The Land of Property Opportunities Fokus Utama Majalah Properti Indonesia edisi Februari 2019

08 February 2019 10:03

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Febaruari 2019 menurunkan fokus utama dengan judul; “Bali, The Land of Property Opportunities”.

Disebutkan beberapa dekade lalu, berwisata untuk menikmati keindahan Bali hanya dilakoni oleh para wisatawan asing dan orang-orang berkocek tebal. Bisa dimaklumi, saat itu transportasi, khususnya akses penerbangan menuju Bali masih segelintir dan biaya yang tergolong tinggi. Sementara, melalui darat membutuhkan waktu panjang. Hal ini semakin klop dengan ketersediaan akomodasi yang terbatas dengan tarif yang tidak murah.
Kondisi ini terus berlanjut hingga akhirnya industri penerbangan berubah. Dengan konsep berbiaya rendah, berbagai daerah pariwisata terpencil sekalipun dapat di akses dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali Bali. Sepanjang Januari sampai Desember 2018, misalnya, tercatat sebanyak 6,1 juta turis asing mengunjungi Bali. Jumlah ini meningkat sebesar 600 ribu wisatawan dibanding tahun 2017.

Seiring waktu, daerah bergelar Pulau Dewata ini tidak hanya menjadi destinasi wisata utama di Asia, namun juga menjadi daerah investasi prospektif, khususnya di sektor properti. Lihat saja, sejak sepuluh tahun terakhir, berbagai jenis properti kian menjamur di sini. Dalam kondisi aktual, setidaknya terdapat ribuan properti komersial mulai dari residensial, hotel, dan villa yang tersebar dengan ragam konsep, harga, jumlah unit, fasilitas dan lokasi beragam. Mulai dari pemandangan pantai dan laut, tebing, sawah, sungai, kebun tropis serta pemandangan hutan hujan tropis.
Pasokan yang terus bertumbuh dan tidak terkontrol tersebut, belakangan membuat properti di Bali di sebut-sebut over supply atau mengalami kelebihan pasokan, sampai-sampai mengakibatkan persaingan harga yang signifikan. Yang menarik, terlepas apapun kondisi yang dialami, pembangunan properti di Bali tetap terus berlanjut dan Bali masih tetap seksi di mata investor properti. Sebab, memiliki properti di Bali tidak hanya memikat dari segi investasi namun juga menaikkan gengsi tersendiri.

Sebagai daerah tujuan wisata, pesona yang ditawarkan Bali seakan tidak pernah pudar. Selain keindahan alamnya, kultur masyarakat dengan julukan Pulau Dewata tersebut diyakini memiliki magnet tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke Bali. Status inilah yang pada akhirnya mendorong pergerakan bisnis di Bali tumbuh secara signifikan termasuk industri propertinya. Sebab, sebagai destinasi wisata, kebutuhan akan tempat tinggal mutlak dibutuhkan sebagai sarana pendukung para wisatawan yang berkunjung ke sini.
Banyak wisatawan yang karena begitu tertarik dengan pesona Bali memutuskan untuk tinggal berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan ada yang memilih untuk menetap di Bali. Bisa dipahami jika subsektor properti yang paling bergairah di Bali adalah hotel, kondotel, dan villatel. Yang menarik, meski saat ini jumlah pasokan properti di Bali sudah cukup padat -tercatat terdapat kurang lebih 15,000 hotel yang telah beroperasi- namun, minat investasi properti di Bali masih tinggi terutama untuk sektor kondominium hotel (kondotel) maupun vilatel.
Sebelumnya, konsultan properti Knight Frank Indonesia dan Elite Havens, pernah menyatakan, harga tanah kavling di lokasi strategis Bali mencatat rekor tertinggi. Pertumbuhannya rata-rata 34% dibanding rata-rata kenaikan normal per tahun dalam 10 tahun terakhir (sebesar 8% hingga 16%). Hal sama diakui salah seorang member broker di Bali. Menurutnya, permintaan tanah di Bali untuk kepentingan pariwisata telah mendongkrak harga tanah naik tinggi sekali. “Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat pembeli lebih memilih villa bekas dibandingkan membangun villa baru karena harga tanah sudah sangat tinggi,” katanya.
Sekedar menyebut contoh, untuk area Kuta yang didapuk sebagai kawasan dengan harga tanah termahal di Bali, saat ini harga per are nya (100m2) mencapai Rp1 miliar sampai dengan Rp3,5 miliar. Wilayah ini tersebar seperti di kawasan Seminyak, dan sekitarnya seperti Legian, Petitenget, serta Batu Belig. Sementara di Renon, Denpasar harga rata-ratanya di atas Rp2 miliar per are. Atau bergeser ke wilayah selatan seperti kawasan Bukit Pecatu yang terkenal dengan kavling tanah yang eksklusif di pesisir pantai atau dengan tebing dan pantai putihnya, harga tanah sudah lebih dari Rp1,5 miliar per are.
Kawasan Ubud juga tak lepas dari imbas lonjakan harga tanah. Jika pada tahun lalu harga termurah mulai Rp400 juta per are nya, saat ini sudah mencapai Rp600 – 700 juta. Kondisi ini pula yang membuat harga tanah di kawasan pinggiran seperti Klungkung, Tabanan, Gianyar, Singaraja hingga Kintamani langsung ikut terkerek dengan cepat.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia