Berharap Properti Palu Kembali Bangkit Paska Bencana Gempa dan Tsunami Menerjang Wilayah Ini dan Sekitarnya

09 November 2018 10:49

Paska bencana gempa dan tsunami menerjang Palu dan sekitarnya, bisnis properti di Ibukota Sulawesi Tengah tersebut mengalami perlambatan hingga stagnan. Meski demikian, sejumlah pengembang justru tak patah arang dan mulai kembali membangun. Berharap Palu segera kembali bangkit.

Akhir September lalu duka menyelimuti seluruh masyarakat di Wilayah Palu dan Donggala. Pada petang menjelang senja tersebut, dua kawasan di Sulawesi Tengah ini diguncang gempa bermagnitudo 7,4 Skala richter dan disertai gelombang tsunami hingga meluluhlantakkan berbagai bangunan mulai dari rumah, pusat perbelanjaan, hotel, kantor, dan bangunan lainnya.

Jembatan Kuning Ponulele yang menjadi ikon Kota Palu pun tak luput diterjang tsunami. Begitu juga dengan Rumah Sakit Umum Anutapura Palu, pusat perbelanjaan Mal Tatura serta Hotel Roa-Roa yang berakhir rata dengan tanah. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebanyak 1.747 unit rumah di Perumnas Balaroa dan 744 unit rumah di kompleks perumahan Patobo ambles. Kedua perumahan tersebut menjadi salah satu wilayah terdampak gempa paling parah karena berada di jalur sesar Palu Koro, atau jalur pusat gempa.

Tak hanya bangunan, sejumlah infrastruktur ikut pula hancur, mulai dari landasan pacu Bandara Sis Al Jufri, Jalur trans Palu-Poso-Makassar serta beberapa pelabuhan seperti Pelabuhan Pantoloan dan Pelabuhan Wani. Rusaknya sejumlah infrastruktur juga turut mengganggu jalannya bisnis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu. KEK Palu sendiri merupakan satu dari 12 kawasan khusus yang dikembangkan pemerintah untuk menarik lebih banyak investasi dan membantu memeratakan ekonomi di luar Jawa. KEK Palu dikembangkan di atas total lahan seluas 15.000 hektar, dimana area pengembangan yang sudah terealisasi seluas 482 hektare.

Perketat IMB

Ketua Umum Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) yang juga pakar konstruksi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Drajat Hoedajanto mengatakan, pentingnya perencanaan
apik atas ketahanan bangunan terhadap gempa. Dradjat menyebut, penyebab banyak kehancuran akibat gempa adalah pengabaian terhadap aspek teknis bangunan. Menurutnya sudah mesti dibenahi adalah sektor pengurusan Izin Mendirikan Bangunan atau IMB. Sertifikat persetujuan dan perizinan ini wajib dikantongi oleh orang atau badan yang akan mendirikan bangunan.

Dradjat mengatakan keselamatan manusia harus menjadi persyaratan minimum untuk pelulusan dokumen dimaksud. Jika IMB dikeluarkan dengan benar. Secara teoretis maka yang mengeluarkannya minimal sudah punya standar bagaimana (bangunan) yang aman dan bagaimana yang tidak. Artinya, bangunan yang sudah memiliki IMB diandaikan sudah melalui tahap-tahap teknis dan administratif seharusnya menjadikan keselamatan manusia sebagai harga mati.

Senada, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ahmad Djuhara mengatakan pemerintah mesti sanggup memaksa pranata pemerintah di daerah untuk tertib membangun. “IMB harus ada, dan itu bukan izin saja. Tapi, memastikan yang terbangun tahan gempa. Gempa di Palu menjadi peringatan telak bagi kota-kota (rawan gempa). Mereka harus menilai kembali keberadaannya terhadap bahaya gempa,” ujarnya.

Dengan demikian betapa pentingnya tenaga ahli dalam penyiapan bangunan. “Masalahnya, banyak (pemilik) rumah enggak ngerti siapa arsiteknya, padahal tanda tangan konsultan perencana/arsitek diperlukan dalam pengajuan IMB,” ujarnya.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia