Bertahan dengan Strategi Menggandeng Pemilik Lahan

14 September 2018 14:40

Untuk mengurangi resiko, semakin banyak pengembang yang memilih strategi joint venture. Menggandeng pemilik lahan adalah startegi yang paling banyak dipilih.

Banyak jalan menuju Roma. Begitulah peribahasa yang menggambarkan banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan. Begitupula dalam mengembangkan sebuah proyek properti. Tidak harus memiliki uang sendiri yang cukup, juga bisa dengan menggandeng pemilik tanah untuk bekerjasama.

Cara ini banyak dilakukan tidak hanya pengembang kecil, juga pengembang menengah dan besar. Pengembang bisa memberdayakan pemilik lahan sebagai sumber modal membangun proyek properti. Mereka menyumbang modal bukan dalam bentuk uang tapi berupa tanahnya dengan tidak meminta pembayaran tunai di depan. Jadi tanahnya dibayar ketika proyek sudah menghasilkan penjualan atau dibayar bertahap dengan jangka waktu tertentu.

Vice President Coldwell Banker Indonesia, Dani Indra Bhatara mengatakan, pengembang tak harus bergantung banyak dari pembiayaan perbankan. Menurutnya, banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya dengan memperbanyak
kerjasama dengan pemilik lahan (joint venture). “Justru sekarang ini pengembang berusaha tidak menggunakan modal sendiri, Dalam perjalanannya mencari sumber pendanaan dari pihak lain, untuk mengurangi risiko. Misalnya juga banyak yang nggak harus punya tanah, kerjasama dengan pemilik lahan,” katanya.

Menurut Asriman Akhirudding Tanjung, pendiri komunitas Property Learning Technologies (PLT) dan penulis berbagai buku properti, dalam blognya asriman.com, bagi pemilik lahan keuntungannya adalah mendapatkan bagian keuntungan proyek selain mendapatkan harga tanah. Sementara bagi developer keuntungannya adalah mereduksi modal kerja yang dibutuhkan untuk mengolah suatu proyek.

“Karena berdasarkan pengalaman, alokasi dana untuk mengakuisisi lahan mengambil porsi lebih kurang 30% dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek. Bisa dihitung keringanan kebutuhan biaya investasi jika proyek menerapkan pola kerjasama lahan dengan pemilik tanah,” kata Asriman.

Namun kerjasama lahan juga memiliki kerugian. Menurut Asriman, kerugian pemilik lahan adalah tidak mendapatkan uang pembayaran atas harga tanahnya sekaligus. Sementara, bagi developer kerugian kerjasama lahan ini adalah developer musti rela berbagi keuntungan dengan pemilik lahan.

“Akan tetapi jika kita menghitung berdasarkan prosentase keuntungan maka kerjasama lahan ini memberikan prosentase keuntungan yang lebih besar walaupun nominalnya lebih kecil. Adalah pilihan kita apakah kita bermain di prosentase atau nominal,” ujar Asriman.

Asriman mengatakan, untuk menghitung besaran bagi hasil proyek harus detil dengan memperhatikan besaran bagian masing-masing pihak dalam proyek, supaya bagi hasilnya memenuhi prinsip-prinsip keadilan. Besarnya bagian pemilik lahan bisa dilihat dengan membandingkan prosentase harga tanah dengan RAB proyek. Sehingga semakin tinggi harga tanah semakin besar pula bagian pemilik lahan. “Sebagai developer bisa menawarkan bagi hasil dengan pola seperti apapun sepanjang disepakati oleh pemilik tanah,” ujar Asriman.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia