Bisnis Ritel Kita Memasuki Masa-masa Senjakala (2)

02 April 2018 13:23

Seyogyanya moratorium bisa menahan penurunan penjualan sektor ritel di Jakarta. Namun nyatanya hasil research Colliers International tingkat okupansi atau keterisian pusat belanja atau pasar ritel hingga akhir tahun 2017 tercatat berada pada tingkat terendah setidaknya selama 10 tahun terakhir. “Pasar ritel saat ini berada dalam periode yang penuh tantangan antara lain karena menurun daya beli masyarakat dan adanya sejumlah gerai terkemuka di sejumlah mal tutup,” ujar Ferry Salanto, Associate Director at Colliers International.

Hal senada juga disampaikan dalam riset Jones Lang LaSalle (JLL) dimana tingkat okupansi pusat perbelanja Jakarta hingga akhir 2017 menjadi 89 persen. Angka ini lebih buruk dibandingkan tingkat keterisian pusat perbelanjaan tahun 2012 hingga 2016 yang selalu di atas 90 persen.

Dengan tingkat hunian 89 persen dari total ruang eksisting 2,9 juta meter persegi, maka tingkat kekosongan mal di Jakarta sekitar 31,9 hektar. Sementara itu tingkat serapan sepanjang kurtal IV-2017, JLL menyebut hanya 2.600 meter persegi. Padahal, hingga akhir 2019 akan terdapat tambahan ruang pusat belanja seluas 106.000 meter persegi. JLL mencatat tak ada kenaikan tarif sewa secara triwulanan. Tarif sewa berada pada level rata-rata Rp494.171/meter persegi per bulan.

Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia, Anton Sitorus mengatakan tingkat kekosongan mal beradasarkan segmen paling tinggi adalah mal untuk kategori middle up dengan tingkat kekosongan mencapai 19,5%, disusul kategori middle low 7,3%, upper menyentuh 4,9%, sementara yang high end stabil di kisaran 3%.
Bergugurannya bisnis ritel ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Hal serupa juga terjadi di Singapura. Selang seminggu pasca pengumuman tumbangnya GAP dan Banana Republi, paritek mode Amerika Eagle Outfitters juga keluar dari pasar Singapura. Seperti dilansir Straits Times, Kamis (22/2/2018), sebanyak dua gerai Amerika Eagle Outfitters di Suntec City dan Vivo City berhenti operasional 28 Februari.

Pihak perusahaan mengatakan, tutupnya American Eagle Outfitters tidak terhindarkan. Mereka kini bakal fokus kembali pada bisnis utama mereka, yaitu jualan alas kaki. Esther Ho, Wakil Direktur Sekolah Manajemen Bisnis Nanyang Polytechnic, mengatakan, persaingan ritel pakaian di Singapura memang sengit. Munculnya label seperti H&M, Zara, dan Forever 21 telah melukai merek seperti GAP dan juga American Eagle Outfitters.

Mal Berkonsep Old Mulai Ditinggalkan

Perubahan gaya hidup masyarakat yang begitu cepat membuat mal yang berkonsep lama mulai ditinggalkan pengunjung. Beberapa perusahaan retail seperti Ramayana dan Matahari menutup beberapa gerainya akibat sepi pengunjung yang berdampak terhadap penjualan.

Selain itu, maraknya situs belanja online membuat masyarakat lebih suka membeli barang lewat smartphone juga turut menjadi pemicu turunnya pengunjung pusat belanja berkonsep International Trade Centre (ITC). Di antaranya ITC Cempaka Mas dan ITC Roxy Mas. Kenaikan harga barang dan tarif listrik membuat daya beli masyarakat menengah ke bawah turun.

Berdasarkan survei sekuritas BCA, pusat belanja Metro Pasar Baru mengalami penurunan pengunjung hingga 59 persen pada semester I 2017 dibanding semester yang sama tahun sebelumnya. Demikian pula pengunjung Taman Palem Mall juga turun 49 persen, serta Glodok Plaza juga menyusut 34 persen. Selain itu Mall Mangga Dua, Mangga Dua Center, ITC Cempaka Mas, Mangga Dua Pasar Pagu, ITC Roxy Mas, juga Harco Mangga Dua yang terjadi penurunan pengunjung antara 23-18 persen.

Sementara itu menurut data Nielsen Retail Audit dalam presentasi PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk menunjukkan bahwa penjualan ritel nasional pada semester I tahun 2017 hanya tumbuh 3,7 persen dari sebelumnya sebesar 10,2 persen.
Di pasar modern, pertumbuhan penjualan ritel pada paruh pertama tahun 2017 melambat menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 11,4 persen. Untuk mini market pertumbuhannya melambat menjadi 7,04 persen dari sebelumnya 18 persen. Sedangkan untuk hyper/super market justru tumbuh 0,4 persen dari sebelumnya hanya 0,1 persen.

Pertumbuhan industri ritel secara keseluruhan pada September 2017 menurut catatan Nielsen hanya tumbuh 3,8 persen dibanding bulan sebelumnya (month to month/mtm). Pertumbuhan tersebut jauh berada dibawah rata-rata pertumbuhan ritel yang biasanya mencapai 10-11 persen. Sementara itu pertumbuhan ritel modern pada bulan September masih lebih baik, yakni mencapai 5,1 persen (mtm). Sementara pertumbuhan ritel konvensional, hanya tumbuh 2,8 persen (mtm).

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia