Dampak LRT Pendorong utama Pertumbuhan Bekasi

11 April 2016 11:06

Tingginya permintaan rumah di Bekasi menurut Ali Tranghada dari Property Wach adalah tidak bisa lepas dari keberadaan proyek mass rapid transportation (MRT) yang digarap oleh PT Wijaya Karya Tbk dan rekanan konsorsium lainnya. Ada juga proyek light rail transit (LRT) yang tengah dikerjakan PT Adhi Karya Tbk. Proyek transportasi masssal publik seperti MRT dan LRT bakal membuat wilayah-wilayah tersebut memiliki nilai tambah.

Tak dapat disangkal, pengembangan infrastruktur mampu mendongkrak bisnis properti di sekitarnya.  Termasuk pembangunan kereta api ringan atau light rail transit (LRT). Jalur transportasi massal ini dirancang sepanjang 83,6 kilometer dan dibangun dalam dua tahap.

Masing-masing terdiri dari tiga lintas pelayanan, yakni tahap 1 meliputi lintas layanan Cibubur-Cawang, Bekasi Timur- Cawang, Cawang-Dukuh Atas dengan 21 stasiun dan panjang 42,1 kilometer. Tahap dua lintas pelayanan Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, dan Palmerah- Grogol dengan panjang 41,5 kilometer.

Rencananya akan dibangun dua tahap yang terdiri dari tiga lintas pelayanan. Tahap 1 meliputi lintas layanan Cibubur- Cawang, Bekasi Timur-Cawang, Cawang- Dukuh Atas dengan 21 stasiun dan panjang 42,1 kilometer. Tahap dua lintas pelayanan Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah- Senayan, dan Palmerah-Grogol dengan panjang 41,5 kilometer. Rencananya, akan ada 10 stasiun pada tahap dua.

Belum juga berjalan, harga lahan di sekitar jalur sudah merasakan dampaknya. Lahan dan properti beberapa wilayah yang akan menjadi titik-titik pertemuan atau stasiun LRT diprediksi bakal mengalami kenaikan harga signifi kan. Namun, itu sangat tergantung pada ketersediaan atau pasokan lahan kosong yang ada. Bila lahan kosong di sekitar titik pertemuan LRT tersebut tidak terlalu luas, kenaikan harganya paling banter 20 persen.

Sebaliknya, jika pasokan lahan kosong masih sangat luas, bukan tidak mungkin lonjakan harga akan menembus 200 persen. “Kenaikannya sulit diprediksi ya, kalau memang lahan yang tersisa sedikit paling bisa naik 20 persen. Tapi kalau ketersediaan lahannya banyak bisa mencapai 200 persen,” kata Ali. (Selengkapnya dapat dibaca di MPI  edisi April 2016 , atau versi digital dapat diakses melalui http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia atau https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia.  )(Riz)