Dibalik Relaksasi LTV Menggali Potensi atau Mengundang Spekulasi; Laporan Utama Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Agustus 2018.

06 July 2017 09:46

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Agustus telah beredar, versi digital dapat diakses melalui: https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia . Laporan utama yang diulas kali ini adalah tentang pelonggaran kebijakan rasio pinjaman dan progres produk properti atau populer dengan istilah Loan to Values (LTV).

Pelonggaran kebijakan ini oleh bank Indonesia (BI) bertujuan menggairahkan iklim bisnis properti dalam negeri, termasuk pelonggaran rasio financing to value (ftv) bagi pembiayaan properti. Implementasi kebijakan relaksasi tersebut dengan cara memperkecil nilai uang muka kredit properti bagi pembelian rumah pertama untuk semua tipe hingga nol persen.

BI memproyeksi pertumbuhan kredit perumahan rakyat (KPR) hingga akhir 2018 dapat terdorong sekitar 14 persen setelah ada kebijakan pelonggaran aturan tersebut. Sementara, di satu sisi, kebijakan ini justru ditanggapi secara dingin oleh beberapa pelaku usaha properti.

Pelonggaran memasuki quartal II tahun ini berbarengan dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sebesar 50 basis poins (bps) menjadi 5,25 persen. Penyempurnaan ketentuan LTV tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/8/PBI/2018 tentang Rasio Loan to Value untuk Kredit Properti dan Rasio Financing to Value untuk Pembiayaan Properti, dengan harapan dapat menjaga iklim usaha properti yang sejak beberapa waktu terakhir mengalami perlambatan.

Salah satu dampak Kebijakan yang mulai berlaku 1 Agustus 2018 ini, ialah bahwa sejumlah bank, yang memenuhi syarat, bebas menentukan besaran uang muka KPR untuk pembelian rumah pertama. Dengan demikian, ketentuan ini membuka peluang sejumlah bank untuk membebaskan atau mengenakan uang muka ringan saat membeli rumah melalui skema KPR.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan yang mulai berlaku per 1 Agustus 2018 tersebut dilakukan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan dengan tetap memperhatikan aspek kehati-hatian dan perlindungan konsumen di sektor properti. “Esensinya kami membebaskan LTV. Untuk pembelian rumah kedua 80-90 persen, terkecuali untuk tipe di bawah 21 meter persegi yang memang bebas LTV-nya,” jelas Perry.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia