Harga Tertekan, Waktu yang Tepat untuk Membeli Rumah Second

14 December 2018 11:04

Penjualan rumah bukan baru atau biasa disebut dengan rumah secondary (second), khususnya yang ditawarkan lewat daring mengalami penurunan harga antar 20% – 60%.

Sempat digadang-gadang akan kembali bangkit setelah diterpa krisis sejak empat tahun lalu, nyatanya pada tahun 2018 ini, industri properti dalam negeri belum bisa lepas dari bayang-bayang pelemahan. Masih gontainya daya beli masyarakat, membuat sejumlah pengembang memilih target konservatif.

Salah satu sub sector yang terkena imbas dari pelemahan bisnis tersebut adalah perumahan secondary (Second). Bahkan, sejumlah pelaku bisnis mengaku jika harga jual rumah bukan baru ini bisa terkoreksi antara 20% hingga 60%.

Hal ini turut diamini sejumlah broker dan konsultan properti yang mengakui bahwa harga rumah di pasar secondary memang tengah terkoreksi siginifikan pada tahun ini. Kawasan DKI Jakarta, misalnya. Harga rumah second di ibu kota saat ini sudah terkoreksi sekitar 5%-20% sejak awal tahun 2018. Bahkan, diprediksi pelemahan harga tersebut akan berlanjut hingga awal tahun 2019.

Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya harga rumah second di pasaran lebih dikarenakan minat beli masyarakat yang masih rendah, terutama di kelas menengah yang diperkirakan tidak dapat menjangkau harga yang ditawarkan oleh broker.

Selain itu, melemahnya harga rumah second di pasaran tak terlepas dari situasi politik di tahun 2019, yang membuat para pengembang, investor atau pun end user menunda pembelian sambil mengamati situasi ekonomi di tahun-tahun mendatang.

Tak hanya itu, lesunya pasar secondary disebabkan oleh jumlah pasokan yang besar sejak tahun 2009 hingga tahun 2012 lalu. Kala itu, harga properti meningkat hingga 50%. Maka tak heran, bila harga rumah second di pasar saat ini melemah.

Sejalan dengan fakta tersebut, General Manager Sales Rumah123 Maria Herawati Manik, mengatakan, penjualan rumah second memang melemah, tetapi jika jika dilihat range penurunannya, sebenarnya tidak terlalu drastis dibandingkan rumah baru. “Tren rumah secondary sejak 2015 bagus sekali, sejak 2016 sudah mulai menurun karena kondisi ekonomi. Namun jika ditarik garis mediannya, penurunan tidak terlalu signfikan,” katanya.

Dia mengatakan berdasarkan listing rumah123.com, agency yang terdaftar berjumlah 12.000, sementara listing untuk rumah second sudah lebih dari 800.000 listing. Oleh karena itu, penjualan rumah second dari tahun 2015 hingga 2018 mengalami kenaikan kurang lebih 10 hingga 15 kali lipat melalui situs properti tersebut.

investor lebih mendominasi. Berdasarkan pencarian terbanyak, lima lokasi favorit rumah second adalah Tangerang, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Bekasi, dan Depok.

Dia menjelaskan, harga yang paling banyak dicari yaitu antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar. “Mayoritas pembeli masih mencari di bawah Rp1 miliar, itu menandakan daya beli masyarakat masih di harga segitu,” tambah Maria.

Senada dengan Maria, Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) DKI Jakarta, Clement Francis, mengatakan penjualan rumah secondary selama kuartal III/2018 mengalami penurunan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. “Kondisi penjualan mengalami stagnasi pada kuartal III/2018,” kata Clement.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia