Industri Baja Ringan Masih Belum Menjadi Tuan Rumah di Negara Sendiri

09 November 2018 10:24

Pemerintah bertekad untuk melindungi pasar industri baja di dalam negeri dari serbuan produk impor. Untuk itu, diperlukan upaya sinkronisasi kebijakan yang berpihak kepada industri baja nasional mengingat potensi pasar domestik yang masih prospektif ke depannya.

Pengembangan infrastruktur dan properti yang masif membuat kebutuhan beragam jenis baja meningkat tajam, termasuk baja ringan. Bahkan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan industri baja di dalam negeri. Sebab, kebutuhan baja di pasar domestik saat ini lebih besar dari jumlah produksi yang ada.

“Total produksi baja kasar seperti slab dan billet mencapai 7,8 juta ton pada tahun 2017, sementara jumlah konsumsi nasional sebanyak 13,6 juta ton,” ujar Doddy Rahadi, Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian seperti dilansir Tempo beberapa waktu lalu. Oleh karena itu pemerintah mengupayakan masuknya investasi baru dan mendorong industri yang sudah ada untuk melakukan ekspansi.

Salah satu yang dipacu, kata Doddy, adalah klaster industri baja di Cilegon, Banten, yang ditargetkan memproduksi hingga 10 juta ton baja pada 2025. Selain itu, Kemenperin mempercepat pembangunan klaster industri baja di Batulicin, Kalimantan Selatan dan Morowali, Sulawesi Tengah.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah juga bertekad untuk melindungi pasar industri baja di dalam negeri dari serbuan produk impor seiring dengan peningkatan kapasitas produksi di tingkat global. Untuk itu, diperlukan upaya sinkronisasi kebijakan yang berpihak kepada industri baja nasional mengingat potensi pasar domestik yang masih prospektif ke depannya.

Maraknya baja impor, khususnya dari China dan Vietnam, saat ini masih menjadi tantangan industri baja domestik. Meskipun pemerintah berencana menahan potensi limpahan baja impor akibat efek perang dagang antara Amerika Serikat dan China, tapi hingga September tahun ini, konsumsi baja termasuk baja ringan 70% masih dipasok dari produk impor. Padahal dari sisi kualitas, baja ringan lokal misalnya, dinilai memiliki kualitas yang tidak kalah bersaing dibandingkan produk impor.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia