Industri Keramik Nasional Menanti Safeguards. Lonjakan Impor Telah Berimbas Pada Berkurangnya Jumlah Tenaga Kerja Lantaran Menurunnya Produktivitas & Kapasitas Terpakai Pabrik

07 June 2018 12:56

Lonjakan impor keramik telah berimbas pada berkurangnya jumlah tenaga kerja lantaran menurunnya produktivitas dan kapasitas terpakai pabrik. Kerugian finansial bagi industri keramik lokal juga tidak dapat terhindarkan lagi.

Dengan mulai bergairahnya sektor properti dan masifnya pembangunan infrastruktur, diharapkan bisa membuat bisnis keramik nasional tumbuh 10% – 15% di 2018 ini. Namun sayang pelaku industri keramik nasional tidak bergembira dengan harapan ini. Pasalnya mereka tidak menikmati pertumbuhan konsumsi keramik nasional. Lho, kok bisa?

Menurut Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), yang banyak mengisi pasar keramik nasional saat ini ialah produk impor China. “Kami berharap permintaannya tumbuh, seperti properti yang tampaknya turut tumbuh. Namun di tengah permintaan naik ada kesulitan pelaku domestik mengambil porsinya. Kenaikan demand dalam negeri tidak diambil oleh lokal tapi oleh impor,”

ujar Elisa Sinaga, Ketua Umum Asaki Ia mengatakan, Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) merugikan industri keramik lokal. Kalau dulu saat agreement belum dilaksanakan, bea masuk keramik China ke Indonesia sekitar 20%. “Saat itu saja impor keramik naik 20%-26% tiap tahun, bagaimana dengan sekarang yang bea masuknya jadi 5%,” sebutnya. Sehingga, kata Elisa, sangat dimungkinkan pasca bea masuk turun akan berdampak impor makin tinggi.

Sementara itu sebagian besar bahan baku dalam negeri didapat dari China yang saat ini kena bea dumping hampir 26%. Hal itu menjadikan biaya produksi keramik semakin meningkat. “Produsen tertekan dengan biaya produksi plus harga gas masih tinggi. Di samping itu pasar tergerus produk keramik jadi China,” kata Elisa.

Sepanjang tahun lalu, volume produksi industri keramik dalam negeri sekitar 350 juta m2 dari kapasitas terpasang sebesar 580 juta m2. Kebutuhan dalam negeri berada di kisaran 400 juta m2. Pada tahun ini, Elisa memperkirakan impor bisa tumbuh hingga 40% dengan penurunan bea masuk.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam tiga tahun terakhir, yakni tahun 2015 sampai 2017, volume impor ubin keramik terus meningkat. Rata-rata kenaikan volume impor ubin keramik sebesar 21,1% per tahun. Tahun 2015, impor ubin keramik tercatat sebanyak 861.341 ton. Jumlah itu terus naik menjadi 1,07 juta ton ditahun 2016. Sedangkan, di tahun 2017 impor keramik menyentuh 1,26 juta ton. Dari data tersebut dapat terlihat kenaikan impor sebesar 46,5% pada tahun 2017 dibandingkan tahun 2015.

Negara asal impor ubin keramik antara lain China, Vietnam, Thailand dan Malaysia. Perinciannya, volume impor ubin keramik terbesar berasal dari China, dengan pangsa impor sebesar 97,19% dari total impor ubin keramik Indonesia tahun 2015.

Tahun 2016, pangsa pasarnya meningkat sebesar 98,84%. Namun, di tahun 2017 porsi impor keramik asal negeri Panda itu turun tipis menjadi 96,03%. Indonesia harus dapat seperti negara lain yang melindungi industri keramik masing-masing dengan penerapan bea masuk antidumping. Pemerintah Eropa, misalnya, menerapkan BMAD sebesar 69% dan Vietnam sebesar 39%. “Selain itu, kami juga ingin mengajukan kalau mungkin produk keramik masuk pre-shipment inspection. Ini karena kami diperlakukan demikian kalau mau ekspor oleh negara yang kami tuju,” jelas Elisa.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia