Investasi Villa dan Kondotel Masih Pegang Peranan

14 February 2019 15:15

Majalah Properti Indonesia mengulas perkembangan bisnis properti di Pulau Dewata. Salsatunya tentang subsektor yang masih menjadi andalan para pelaku bisnis properti. Yakni Villa dan kondotel masih memagang peranan penting.

Pertumbuhan bisnis penyewaan villa di Bali kian menjamur. Tren, desain serta konsep yang ditawarkan pun sudah selangkah di depan. Ia tak lagi hanya berbicara mengenai hunian dengan ruang gerak yang besar, bercitarasa klasik serta fasilitas terbatas. Sebab, berbicara villa dalam kondisi kekinian berarti berbicara tentang sebuah bangunan berdesain modern dan mewah yang dibangun secara khusus, lengkap dengan fasilitas penunjangnya. Meskipun, memang tak bisa dipungkiri, villa-villa yang menjual konsep tradisional dan klasik masih tetap banyak di cari.

Di Provinsi Bali sendiri, saat ini setidaknya terdapat ratusan bangunan villa dengan konsep, harga, jumlah unit, fasilitas dan lokasi beragam. Mulai dari pemandangan pantai dan laut, tebing, sawah, sungai, kebun tropis serta pemandangan hutan hujan tropis. Sebut saja, Kupu-Kupu Barong resort yang villa-villanya berada tepat di tebing sungai Ayung, One Eleven di Seminyak, The Santai di Canggu ataupun Bvlgari dan Alila di Uluwatu. Sementara, untuk permintaan selain domestik juga oleh wisatawan asing asal Eropa.

Lembaga konsultan properti Jones Lang LaSalle dalam laporannya menyebutkan, wilayah Kuta Utara dan Kuta Selatan adalah daerah utama untuk villa-villa ternama di Bali, mulai dari skala menengah hingga mewah. Di kawasan ini, investor domestik mendominasi sebagian besar segmen villa, sedangkan sebagian besar investor asing lebih memilih membagun villa kelas atas dan mewah untuk investasi maupun kepentingan pribadi. Adapun, harga villa mewah berkisar antara Rp 65-79 juta/m2, villa kelas atas berkisar antara Rp 37-65 juta/m2, sedangkan skala menengah Rp 23-39 juta/m2.

Menariknya, villa-villa yang dikelola oleh International chain operator (pengelola jaringan internasional) pun saat ini bukan lagi sesuatu yang langka karena jumlahnya yang terus melesat. Maklum, selain kualitas, pengelolaan oleh operator asing tentu semakin menambah prestis para pemiliknya. Apalagi, brand-brand yang bertarung di sini, khususnya yang mengelola villa dan hotel berkelas, bukan sembarang. Sebut saja Ritz Carlton, St. Regis atau Bvlgari. Begitupula dengan nama Banyan Tree dan Premier Hospital Asia.

Pertumbuhan Villa di Bali bahkan bisa mencapai sekitar 10 persen per tahun. Pertumbuhan ini berbanding lurus dengan tingkat okupansi villa seiring meningkatnya jumlah pengunjung ke Bali yang naik hingga 50%. Terlebih, trend saat ini, para turis domestik dan mancanegara lebih suka menghabiskan waktu liburan di Bali dengan private villa, luxury villa, dan villa-villa yang menawarkan konsep unik dengan kental nuansa etnik ataupun Balinese nya. Bisa dikatakan, mereka-mereka ini ingin menikmati liburan di luar konsep hotel yang biasa di tawarkan.
Terkendala harga lahan yang melonjak

Beberapa investor menyebutkan, investasi villa lebih aman layaknya landed house karena tingkat okupansinya yang stabil. Apalagi jika villa tersebut memang digunakan untuk pribadi. Namun, untuk villa yang disewakan karena supply nya yang terus bertambah, maka membuat harga sewa yang ditawarkan menjadi tertekan. Begitupun, yang justru mengkhawatirkan sebenarnya adalah villa-villa yang muncul tanpa ijin dan bangun di sembarang tempat. Sehingga terkadang justru melemahkan daya tarik sebuah kawasan tersebut, dan pada akhirnya berimbas pada okupansi. Saat ini, yang paling diutamakan para investor villa di Bali adalah villa yang akan dibeli berstatus SHM. Sebab, mereka yang berinvestasi villa hampir sebagian karena memang ingin memiliki properti di Bali dan kesempatan tersebut memang ada.

Ke depan, diperkirakan pertumbuhan villa sewa di Bali masih susah ditebak dikarenakan beberapa faktor. Pertama, antara supply – demand villa dan hotel masih belum seimbang sehingga membuat persaingan semakin ketat dan berimbas pada penekanan harga. Kedua, pasokan lahan yang terbatas serta ketiga, harga tanah yang terus melonjak. Karena itu, untuk ke depan, penyerapan unit villa diproyeksi masih tetap ada, namun untuk investor yang membeli tanah dan membangun villa sudah jarang, kecuali memang memiliki stok land bank.

Kondotel Masih Bertumbuh Di Tengah Perlambatan

Selain villa, salah satu bisnis properti di Bali yang perkembangan pasarnya tumbuh signifikan adalah Kondominium hotel (kondotel). Maraknya pembangunan kondotel juga karena menjadi salah satu alternatif investasi di bidang properti. Polanya, investor membeli unit yang bisa dilakukan dengan skema kontan, cash bertahap, atau menggunakan kredit pemilikan apartemen (KPA), lalu pengelola hotel mengoperasikannya sebagai hotel untuk menghasilkan bagi hasil operasi yang diserahkan kepada pemilik unit kondotel.

Apalagi, Investasi kondotel dan villatel dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan sekadar menyimpan uang di bank. Selain itu, dianggap lebih praktis karena tidak perlu memikirkan lagi biaya operasional bulanan, perawatan, hingga mencari penyewa. Pemilik juga tetap bisa menginap dan memperoleh pelayanan yang sama dengan tamu lainnya dari pengelola.

Mengutip laporan dari lembaga konsultan properti Jones Lang LaSalle, perkembangan pasar kondotel di Bali memiliki pertumbuhan yang signifikan atau sekitar 62% pada akhir tahun 2016. Untuk wilayah sebaran, Kuta Selatan adalah daerah utama tujuan pembangunan kondotel (47%), diikuti oleh Central Kuta (25%), Kuta Utara (23%), dan Denpasar (5%). Sementara, harga yang ditawarkan, yaitu, untuk kondotel kelas atas berkisar antara Rp42-62 juta/m2 dengan tingkat penjualan 82%, sedangkan harga kondotel kelas menengah berkisar antara Rp24-48 juta/m2 dengan tingkat penjualan 52%. MPI Riz

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia