Kenaikan Harga Lahan di Serpong Mencapai 300%/Tahun  

07 January 2016 09:27

Jakarta, mpi-update. Pesatnya pertumbuhan wilayah Serpong Tangerang Selatan telah memicu harga lahan di lokasi tersebut melejit dan semakin sulit dijangkau. Kenaikan harga hingga 300%/tahun.  Majalah Properti Indonesia edisi Januari 2016, menurunkan tulisan tentang semakin mahalnya harga tanah di wilayah tersebut

Disebutkan Harga tanah di kawasan Serpong terus meroket. Citranya sebagai kota mandiri membuat kawasan ini terus mengembangkan konsep proyek terpadu saat membangun properti.  Alhasil, harga properti di kawasan ini semakin tak terjangkau.

Dalam kurun waktu lima tahun, kawasan Serpong di Tangerang  Selatan (Tangsel) sudah mengalami kenaikan hingga 300 persen. Semakin lengkapnya infrastruktur dan akses menuju kota mandiri ini menjadi pemicu utamanya.

Selain karena kedekatannya dengan Ibu Kota, kemudahan akses dengan pembukaan beberapa ruas jalan tol baru sangat berpengaruh bagi pertumbuhan industri properti di daerah tersebut. Meski berada di pinggir Jakarta, kawasan ini sudah lengkap oleh aneka fasilitas, bahkan dilengkapi dengan akses dan infrastruktur yang relatif lengkap.

Jalur kereta api listrik (KRL) ke arah Jakarta sudah tersedia. Begitu pula ruas jalan tol. Daya jual kawasan Tangerang Selatan, terlebih daerah Serpong kemungkinan kian cerah melihat kecenderungan investor yang berlomba-lomba me mbidik kawasan tersebut.

Pada 2014 lalu harga tanah di wilayah ini berada pada kisaran Rp10 juta per meter persegi. Bahkan, rumah termurah di BSD City, misal nya, sudah dihargai Rp12 juta per meter persegi. Kini, harga properti di Serpong kian mahal. Rumah tapak dengan harga ratusan juta rupiah saja sudah menjadi barang langka, baik di BSD City, Gading Serpong, ataupun Alam Sutera.

Orang-orang yang tertarik melirik kawasan itu akan dihadapkan de ngan harga rata-rata yang sudah menyentuh angka miliaran rupiah. Kalaupun ada yang memasang harga ratusan juta rupiah, umumnya berlokasi jauh dari kawasan pusat.

Siapa yang mengira 16 tahun lalu, Serpong akan menjadi seperti ini. Waktu itu, daerah yang masuk wilayah Banten ini  hanya hamparan lahan tidak produktif dan sebagian berupa kebun karet. Kemunculan berbagai proyek properti besar oleh para pengembang raksasa seperti Grup Ciputra, kelompok usaha Sinar Mas, Summarecon, Paramount, dan grup Lippo mengubah drastis wajah Serpong.  (MRR)