Ketika Lucy Rumantir Memilih untuk Kembali

23 January 2018 11:47

Lama terdengar, Lucy Rumantir memilih turun gunung dan bergabung sebagai Senior Technical Advisor bersama Savills Indonesia.

NAMA Lucy Rumantir di dunia konsultan properti bukan lagi sesuatu yang asing. Kariernya selama kurang lebih 25 tahun, telah membuatnya lebih dari cukup untuk disegani di dunia properti tanah air. Memang, sejak lima tahun terakhir, Lucy terlihat jarang aktif di dunia konsultan yang telah membesarkan namanya. Hal ini dikarenakan ia harus meninggalkan Indonesia untuk urusan pekerjaan sebagai President & Chief Operating Officer (CEO) di OUE Limited – perusahaan pengembang yang memiliki portofolio di Asia dan Amerika Serikat.

“Sampai sekarang pun saya masih bolak-balik Indonesia – Amerika Serikat (AS) selama 2 minggu untuk urusan pekerjaan, dan hal itu masih akan saya lakukan sampai tahun depan sebelum kembali menetap di Indonesia. Saya lebih suka di Indonesia, bangga menjadi orang Indonesia,” ujarnya tersenyum.

Lucy mengisahkan, awal mula dirinya bergabung dengan OUE Limited karena salah satu portofolio perusahaan developer dunia tersebut adalah gedung tertinggi di Los Angeles yang sebagian besar stakeholder nya orang Asia. Nah, untuk memudahkan pengelolaan gedung tersebut, maka mereka mencari orang Asia yang bisa dipercaya untuk membantu mereka, dan akhirnya saya ditawari menjadi CEO di sana,” ujar pemegang gelar MBA dari sebuah universitas di Hawaii, AS ini.

Pada tahun 2012 Lucy akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan OUE Limited. Salah satu tanggung jawab yang harus dilakukannya adalah merenovasi besar-besaran gedung OUE Limited yang bernama US Bank Tower (310 m) agar dapat menarik okupansi lebih banyak lagi.

Maklum, saat itu tenan yang terisi hanya 50% saja. Tanggung jawab sebagai CEO pun dilakoni Lucy dengan profesional. Sejeka diberi amanah sebagai pimpinan, ia telah membuat beberapa perubahan besar di US Bank Tower, antara lain mengembangkan UOS Sky Space, open-air oveservation deck dan sky-slide.

Gayung pun bersambut. Income OUE Limited akhirnya berlipat-lipat dan hingga saat ini okupansinya sudah mendekati 90%. Selain sebagai CEO di OUE Limited, saat ini Lucy juga tercatat sebagai dewan direksi untuk Central City Association (CCA) Los Angeles dan dewan direksi Town Hall, Los Angeles. Lucy juga menjabat sebagai Direktur Dewan AFIRE (Asosiasi Investor Asing di Real Estat) Amerika Serikat.

Namun, berbagai jabatan strategis yang diemban Lucy di luar negeri rupanya tidak mampu untuk membendung hasratnya untuk kembali mendedikasikan hidupnya di Indonesia. Ibarat sejauh-jauhnya burung terbang pada akhirnya tetap akan kembali ke sangkarnya, Lucy akhirnya memilih kembali masuk ke dunia konsultan properti di Indonesia, dan sejak Maret 2017 memilih bergabung di bawah bendera Savills Indonesia.

Di perusahaan konsultan asal Inggris tersebut, Lucy menduduki posisi Senior Technical Advisor. Lucy mengaku kalau dunia konsultansi tidak bisa begitu saja ia tinggalkan. “The Beuty being consultant, ilmu kita jauh lebih banyak di consultant daripada di developer, kalau kita kerja di developer yang kecil cuma punya satu gedung, yaudah itu aja yang kita tahu. Tapi kalau consultant, pihak yang bisa mengetahui kondisi pasar lebih baik, jadi bisa ‘mengarahkan’ apa yang baik dan menguntungkan bagi owner, kita bisa memberikan advise dan mereka menjalankan sesuai yang kita sarankan. Karena kerja sama dengan developer itu jangka panjang,” je;as wanita kelahiran Ujung Pandang, 63 tahun silam.

Lucy menyebutkan, ibarat roda yang berputar, kondisi pasar properti saat ini memang sedang berada di bawah. Jika beranalogi menggunakan jam, property sedang ada di angka 6, di mana saat ini properti Indonesia masih pada tahap untuk menunggu.

Meski begitu, hal ini tak berarti membuat Lucy pesimis. Baginya, bisnis properti tetap tumbuh tapi harus melewati fase tahun politik terlebih dahulu. “Saya sudah di properti selama lebih dari 25 tahun, jadi properti di Indonesia tidak akan mati sampai kapan pun. Menurut saya properti di Indonesia akan bangkit kembali pada tahun 2019 mendatang. Karena pergerakannya selalu begitu di Indonesia. Kalau pemilu, tunggu dulu deh siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Jadi investor pun wait and see, takutnya tiba-tiba ada perubahan. Pasar itu suka menunggu,” papar mantan CEO & Chairman of Procon Indah/Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, ini optimis.

Lucy pun memberikan petuahnya kepada anak-anak muda yang sedang meniti karier di konsultan khususnya sektor properti. “Kalau kalian melakukan sesuatu, lakukanlah yang terbaik. Jadi pekerjaannya mau apapun, jangan dilihat posisinya. Posisi serendah apapun kalau kalian melakukan yang terbaik itu hasilnya pasti baik. Jangan berpikir kalau sudah memiliki jabatan besar baru ingin melakukan yang terbaik. Itu salah. Kalau terbaik di setiap step pasti kalian akan lebih cepat menggapai keinginan kalian,” tutup Ibu dari tiga anak sekaligus pengagum penyanyi Celline Dion tersebut lugas. MPI DW.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia.