Laporan Bisnis Properti dari Trade Zone Batam (2)

10 October 2017 12:37

Salah satu sektor yang cukup prospektif di Batam adalah properti. Setelah sempat tak terdengar gaungnya, dalam 4 tahun terakhir sejumlah pengembang baik lokal, nasional maupun asing mulai membuka lahan atau mengembangkan lahan barunya di Batam.

Kondisi ini semakin klop dengan dukungan status Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang berarti properti di sini bebas pajak Ppn, sehingga meringankan konsumen dan investor untuk membeli hunian berikut fasilitas pendukungnya.

Tak hanya itu, karena diisi begitu banyak kawasan industri besar, otomatis membuat tingkat migrasi di Batam menjadi tinggi. Bisa dimaklumi, jika sebagian besar penduduk Batam merupakan pendatang dari berbagai daerah termasuk dari negara asing.

Dengan kondisi demikian, seperti dinyatakan oleh Tirta Setiawan, Direktur Promax Indonesia, bahwa banyak pembelian properti di Batam, bermotif investasi. Jika pada masa sebelumnya Batam begitu diminati investor dari daerah-daerah seperti, Jakarta, Surabaya atau Balikpapan, kini, kebanyakan pembelinya berasal dari daerah di sekitar Batam dan Kepulauan Riau. Kondisi ini pula yang menyebabkan sektor properti di Batam telah berkembang menjadi sarana investasi paling potensial karena pertumbuhan harga yang tertinggi dibandingkan kota lainnya di Indonesia.

Sinarmas land, Ciputra Group, Agung Podomoro Group, Alam Sutera, Artha Graha Group, Pollux Properties, Sentosa Group Singapore, serta Funtasy Island Development Pte. Ltd adalah beberapa pengembang yang coba menterjemahkan segudang peluang di Batam dengan mengembangkan proyek-proyek properti berkelas.

Sinarmas land, misalnya. Sekoci usaha milik Eka Tjipta Widjaja ini sebelumnya sudah memiliki 2 portofolio, yaitu, Taman Duta Mas Batam Centre dan palm Spring Golf Nongsa yang telah dikembangkan sejak satu dekade silam. Taman Duta Mas, bahkan bisa dibilang pelopor perumahan kluster mewah di Batam, sementara padang golf Palm Spring merupakan padang golf terbesar di Batam dengan kapasitas 28 hole.

Akhir 2015 lalu, Sinarmas Land kembali tertantang untuk meluncurkan proyek teranyarnya bertajuk Nuvasa Bay di Batam. Di atas lahan seluas 228 hektar, nantinya akan dikembangkan residential tapak sebanyak 1.100 unit, 4.000 kondominium, resort, retail, hotel, fasilitas permainan serta adventure game. Untuk residensial, harga yang dibanderol di atas Rp1,5 miliar hingga Rp20 miliar. Sementara, untuk kondominiumnya dilepas dengan harga perdana mulai dari Rp 500 jutaan.

Sinarmas Land sepertinya memang tak ingin setengah-setengah untuk menggarap proyek yang merupakan pengembangan dari Palm Springs Golf & Country Club tersebut. Terbukti dengan mempersiapkan dana minimum sebesar Rp4 triliun untuk jangka waktu lima tahun mendatang. Pengembang BSD City Serpong ini bahkan siap untuk memangkas hampir sepertiga dari lahan Palm Springs Golf yang semula 27 hole menjadi 18 hole saja. Proyek Nuvasa Bay ini rencananya akan mulai dipasarkan pada kuartal 3 atau kuartal 4 tahun 2016 mendatang.

“Harga lahan dan properti yang sangat kompetitif serta ditunjang kondisi infrastruktur yang baik ditambah pertumbuhan populasi menjadi dasar keyakinan Sinar Mas Land berinvestasi mengembangkan beragam proyek di kota Batam.,” ujar Ishak Chandra, CEO Strategic Development & Services Sinar Mas Land.

Sentosa Group Singapore termasuk salah satu pengambang Internasional yang sudah sejak lama memiliki lahan di Batam, tepatnya di lahan reklamasi pantai Jodoh. Adapun, Funtasy Island Development Pte. Ltd adalah pengembang Funtasy Island yang merupakan area Ecopark dan diklaim terbesar di dunia yang terletak di daerah Belakang Padang.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:

https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia