Laporan Kinerja SCG 2018; Cement-Building Materials Berprospek Menguntungkan

04 February 2019 09:39

SCG, salah satu konglomerasi terkemuka di kawasan ASEAN, terdiri dari tiga bisnis utama, yakni: Cement – Building Materials, Chemicals, dan Packaging. Memiliki lebih dari 200 entitas bisnis dan sekitar 53.000 karyawan.

Rilis yang diterima mpi-update.com (04/02) menyatakan hasil kinerja perushaan tersebut tahun 2018 menunjukkan penurunan keuntungan dari bisnis Chemical sedangkan bisnis Packaging menunjukkan pertumbuhan yang kuat dan konsisten dan bisnis Cement-Building Materials mengalami prospek yang menguntungkan.

SCG tengah berupaya mendorong dua strategi utama di tahun 2019, yang berfokus pada stabilitas keuangan (financial stability) dan manajemen pertumbuhan jangka panjang (Long-term Growth Management) dengan menawarkan solusi terpadu dan model bisnis baru yang memanfaatkan teknologi digital dan deep technology. Berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan startup terkemuka di berbagai kawasan dan pusat litbang di seluruh dunia.

Mr. Roongrote Rangsiyopash, President and CEO of SCG, mengumumkan hasil kinerja perusahaan yang belum diaudit untuk tahun finansial 2018, dengan pendapatan dari penjualan tercatat meningkat 6% y-o-y menjadi Rp 209.357 Miliar (US$ 14.808 Juta). Keuntungan di tahun 2018 tercatat sebesar Rp 19.581 Miliar (US$ 1.385 Juta), menurun 19% y-o-y dikarenakan ketidakpastian ekonomi global, yang utamanya disebabkan oleh perang dagang, pasar minyak yang tidak menentu, dan penguatan Baht Thailand, sehingga mempengaruhi kinerja SCG secara keseluruhan.

Di tahun 2018, pendapatan SCG dari penjualan produk & jasa bernilai tambah tinggi(HVA) mencapai Rp 80.938 Miliar (US$ 5.725 Juta), menunjukkan peningkatan sebesar 5% y-o-y dan mengambil porsi 39% dari total pendapatan dari penjualan. Pengeluaran untuk Penelitian & Pengembangan Inovasi mencapai Rp 2.045 Miliar (US$ 145 Juta) atau sebesar 1% daritotal pendapatan dari penjualan.

Pendapatan SCG dari penjualan pada Q4/2018 menurun sebesar 4% q-o-q menjadi Rp 52.475 Miliar (US$ 3.572 Juta) karena adanya penurunan harga produk kimia tetapi meningkat sebesar 3% y-o-y karena peningkatan volume penjualan produk kimia, jugapertumbuhan domestik bisnis Cement-Building Materials.

Keuntungan pada periode ini meningkat 11% menjadi Rp 4.686 Miliar (US$ 319 Juta) q-o-q, dikarenakan sebagian besar dari kontribusi dividen musiman dari bisnis investasi di Q4/2018 tetapi menurun 17% y-o-y, dikarenakan penurunan kinerja bisnis Chemicals. Pendapatan SCG dari penjualan ekspor tercatat Rp 57.278 Miliar (US$ 4.051 Juta) atau sebesar 27% dari total pendapatan dari penjualan, meningkat 6% y-o-y.

SCG di ASEAN (kecuali Thailand)
Di ASEAN (kecuali Thailand), pendapatan Q4/2018 dari penjualan mencatatkan pertumbuhan sebesar 9% y-o-y, mencapai Rp 13.461 Miliar (US$ 916 Juta), yang merupakan 26% total pendapatan dari penjualan SCG. Pendapatan dari penjualan di tahun 2018 mencatatkan pertumbuhan 11% y-o-y, mencapai Rp 51.641 Miliar (US$ 3.653 Juta). Di dalamnya termasuk penjualan dari wilayah operasi lokal di setiap pasar ASEAN dan impor dari wilayah operasi Thailand.

Pada 31 Desember 2018, total aset SCG mencapai Rp 262.268 Miliar (US$ 18.195 Juta), sedangkan total aset SCG di ASEAN (kecuali Thailand) mencapai Rp 72.775 Miliar (US$ 5.049 Juta), yang merupakan 26% total aset gabungan SCG.

SCG di Indonesia

Di pasar Indonesia, pendapatan dari penjualan SCG pada Q4/18 mencapai Rp 3.719 Miliar (US$ 253 Juta). Pendapatan dari penjualan di tahun 2018 tercatat Rp 13.744 Miliar (US$ 972 Juta), yang menunjukkan peningkatan sebesar 23% y-o-y karena kontribusi bisnis Chemicals.

Mr. Roongrote mengatakan, “Di tahun 2019, SCG akan terus berfokus pada dua strategi utama. Pertama Stability yang telah dipertahankan oleh perusahaan secara terus-menerus dan menjadi dasar dalam bertindak untuk merespon ketidakpastian ekonomi global, sehingga berdampak pada rasio keuntungan SCG secara keseluruhan sebesar 9%, angka yang cukup baik jika dibandingkan kinerja industri secara umum. Selain itu, posisi keuangan tetap kuat, dengan rasio Net Debt to EBITDA sebesar 1.7 kali, dimana sebagian besar utang dalam Thai Baht dengan lebih dari 90% adalah bunga tetap. Alur keuangan perusahaan stabil dikarenakan kinerja dari lini bisnis utama yang sangat baik.

Strategi yang kedua adalah Manajemen Pertumbuhan Jangka Panjang (Long-term Growth Management). Selain meningkatkan pengembangan produk dan layanan bernilai tambah tinggi yang inovatif untuk meningkatkan standar hidup dan membangun pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, tahun ini, SCG akan fokus pada memberikan solusi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan secara lebih memadai.