Manufacturing Risk Index 2019 Posisi Indonesia mulai Unjuk gigi

14 May 2019 13:53

Perusahaan konsultan realestat Cushman & Wakefield meluncurkan riset Manufacturing Risk Index 2019 atau Indeks Risiko Manufaktur mengenai lokasi yang paling cocok untuk industri manufaktur global.

China unggul, Indonesia naik tujuh peringkat Lembaga Cushman & Wakefield meluncurkan riset Manufacturing Risk Index 2019 atau Indeks Risiko Manufaktur mengenai lokasi yang paling cocok untuk industri manufaktur global. Penilaian dilakukan terhadap 48 negara di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA); Amerika; serta negara-negara di Asia Pasifik. Lembaga ini menghimpun data yang didapatkan dari berbagai sumber, antara lain Bank Dunia, United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), dan Oxford Economics.

Indeks Risiko Manufaktur yang dikeluarkan Cushman & Wakefield memberikan penilaian dengan tiga skenario utama yaitu Baseline, Biaya, dan Risiko. Pada tahun ini peringkat Indonesia Dalam skenario Baseline, menempati posisi ke-13 tepat di atas Singapura dan di bawah Portugal. Pada skenario ini, posisi pertama ditempati oleh China karena peran pemerintahnya yang berinvestasi serta mengadopsi teknologi. Posisi kedua ditempati oleh AS. Negara ini disebut menarik bagi para pelaku industri manufaktur terutama bagi mereka yang ingin meminimalisasi risiko politik dan ekonomi. Posisi selanjutnya ditempati oleh India, Kanada, dan Republik Ceko.

Sementara dalam skenario Biaya, Indonesia berada di peringkat ke-4 tepat di atas India dan di bawah China, Malaysia, serta Vietnam. Head of Research for Singapore and South East Asia, Christine Li mengatakan untuk skenario ini, Vietnam naik 8 peringkat dari 23 pada 2018 menjadi 15 pada 2019.

Selain itu, peringkat Indonesia juga naik 7 tempat dari 20 pada 2018 menjadi 13 pada 2019. Artinya, kedua negara saling kejar untuk menarik investasi. Li menambahkan, peningkatan ini terjadi karena ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menjadi seruan bagi banyak perusahaan global untuk mempertimbangkan diversifikasi rantai pasokan alternatif dengan harga lebih murah di negara-negara seperti Indonesia dan Vietnam.

Penilaian dalam skenario Biaya juga memberikan angka lebih tinggi bagi negara-negara dengan biaya operasi (termasuk upah buruh) yang rendah, di mana China tetap menempati posisi utama. “Lokasi berbiaya rendah di Asia Pasifik masih menarik untuk manufaktur padat karya dan akan terus dicari mengingat daya saing biayanya,” ujar Head of Research Cushman & Wakefield for Asia Pacific, Dominic Brown. Kemudian dalam skenario Risiko, Indonesia tidak masuk ke dalam daftar 20 besar. Dalam skenario ini, AS dan Kanada berada di urutan pertama dan kedua, sementara China melorot ke peringkat keempat. Selain itu, negara Asia Tenggara lainnya yakni Singapura juga mendapatkan keuntungan dalam transisi ke Industri 4.0.

Menurut Li, negara kota ini terus berinvestasi dalam teknologi dan inovasi untuk mengimbangi transformasi cepat dalam manufaktur. “Kerangka peraturan Singapura yang kuat menawarkan kepada para produsen tingkat perlindungan yang wajar dari risiko geo-politik dan kekayaan intelektual,” tambah Li.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia