Manuver Lincah Para Pengembang Muda, Fokus Utama Majalah Properti, Maret 2018

06 July 2017 09:46

Di tengah riuhnya kemunculan para pengembang baru di industri properti dalam satu dekade terakhir, terselip sejumlah pengembang muda yang hadir sebagai penantang. Meski tergolong belia dari segi usia, minim dari pengalaman dan jam terbang, nyatanya bukan penghalang bagi mereka untuk tetap berkarya sebagai pengembang profesional. Kreatif, kepercayaan diri yang tinggi, jaringan permodalan yang baik serta memahami selera pasar milineal menjadi ciri khas dari para entrepreneur muda ini.

TIGA DEKADE silam, sektor properti adalah bisnis yang didominasi oleh para pelaku usaha berumur mapan. Mulai dari mereka yang membangun dua sampai lima rumah petakan, hingga yang menjejal apartemen berlantai puluhan, sebagian besar disupremasi oleh para pemasar senior dengan usia lawas.

Namun itu cerita lalu. Seiring perkembangan jaman, menjadi pengembang properti merupakan sebuah kebanggaan bagi para anak muda generasi milineal, bahkan bagi mereka dengan usia yang masih cukup muda. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola pikir para generasi muda ini. Selain merupakan salah satu dari tiga kebutuhan primer setelah pangan dan sandang, industri properti merupakan sektor bisnis penting karena melibatkan setidaknya 175 sektor industri terkait lainnya. Properti juga merupakan bisnis yang cukup aman karena nilai investasinya yang terus meningkat sehingga dapat meminimalisir resiko kerugian dibandingkan dengan jenis investasi lainnya.

Dengan kata lain, generasi muda ini cukup paham bahwa kontribusi industri properti bagi pertumbuhan perekonomian di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata dan memiliki peranan besar sebagaimana sektor industri lainnya seperti otomotif, pertambangan, infrastruktur, serta pertanian. Karena itu, bisa dimaklumi jika tak sedikit yang lebih memilih terjun ke bisnis real estat dibanding menjadi seorang bankir di perusahaan perbankan ternama.

Pada umumnya, skema bisnis yang dilakukan adalah menggarap proyek propertinya sendiri tanpa menggandeng pihak lain (stand alone). Sementara sebagiannya lagi, memilih berkolaborasi dengan pengembang berpengalaman. Skema kerjasama ini biasanya melalui permodalan (joint venture) dan kerjasama operasional (joint operation). Sebagai pendatang baru, mereka memulainya dari tahap menguasai lahan sempit untuk dikembangkan menjadi klaster-klaster sederhana, meski banyak juga yang langsung menggebrak dengan membangun gedung vertikal yang merangkum ratusan unit residensial dan komersial.

Tak hanya itu, terkait soal pemasaran, seiring dengan semakin matangnya bisnis ini, para pemain belia tersebut ternyata cukup jeli membaca pasar. Secara umum yang dibidik memang di pasar yang sama, yaitu kelas menengah – menengah bawah. Meski, beberapa diantaranya juga cukup jeli melihat ceruk pasar kelas menengah atas.
Terlepas berapa pun jangkauan proyek yang dikembangkan, yang pasti para pengembang junior ini memiliki banyak kesamaan; semangat tinggi, kerja keras, high confidence serta intuisi bisnis yang cukup baik. Kelebihan inilah yang patut diapresiasi sehingga mereka hadir untuk mewarnai konstelasi bisnis properti tanah air saat ini dan siap bersaing dengan para pengembang kawakan.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia