Meneropong Bisnis Ritel 2019. Ditinggal sejumlah paritel besar, beberapa mal mulai memutar otak untuk melakukan berbagai terobosan. Salah satunya mengubah konsep shopping mall one stop living entertainment.

12 February 2019 12:10

Ditinggal sejumlah paritel besar, beberapa mal mulai memutar otak untuk melakukan berbagai terobosan. Salah satunya mengubah konsep shopping mall one stop living entertainment.

Membuka tahun 2019, dua peritel besar memutuskan untuk menutup sejumlah gerainya. Di bulan Januari, setidaknya ada 26 cabang pusat perbelanjaan HERO yang memilih mengakhiri ’’perjalanannya hidupnya’’. Sedangkan, Central menutup 1 dari 3 gerainya pada Februari 2019. Penutupan sejumlah peritel besar ini sendiri bukan baru kali ini terjadi, namun sejak 2 tahun lalu dimulai dengan tutupnya 7 Eleven pada Juni 2017, beberapa gerai Ramayana di bulan Agustus, Lotus di bulan Oktober, Matahari Dept Store pada Desember dan gerai lisensi asa3 Inggris Debenhams di tahun tahun 2017. Menyusul berikutnya GAP, Banana Republik, New Look, Dorothy Parkins dan Clarks pada tahun 2018 yang menutup sejumlah gerainya.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta mengatakan, tutupnya sejumlah toko ritel tersebut merupakan hal yang wajar. Sebab, penutupan tersebut bergantung pada kinerja toko itu sendiri. “Saya kira ritel tutup buka itu biasa bagi kami, tetapi seberapa banyak yang ditutup seberapa banyak yang dibuka ini tergantung kondisi ekonomi, kan yang tutup outletnya bukan perusahaannya,” katanya.

Sementara itu, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto menuturkan, bisnis ritel di Indonesia tidak akan banyak terpengaruh oleh tren belanja online (online shopping). “Pengaruh tren online shopping tidak terlalu besar karena orang ke mal untuk cari pengalaman, tidak hanya beli barang,” katanya.

Menurut Ferry, berhentinya operasional sejumlah gerai menjadi implementasi dari perubahan konsep. Kondisi ini tidak bisa disebut sebagai ‘penutupan’ atau melemahnya daya tarik bisnis ritel sebagai dampak dari digitalisasi. Ferry menyebut saat ini ada kecenderungan tren menjadikan mal sebagai tempat untuk aktivitas bisnis (meeting). Berbeda dengan 2018, saat itu mal masih didominasi penyewa makanan dan minuman. Tahun ini, masyarakat akan banyak menjumpai, selain restoran, juga toko busana dan gerai kecantikan. “Orang masih ramai datang ke mal untuk mencari sebuah pengalaman, bukan hanya beli barang.

Shopping center juga sekarang jadi tempat meeting,” paparnya. Bergeliat Pasca Pilpres Secara umum, Ferry menjelaskan pembangunan satu pusat perbelanjaan di Jabodetabek pada 2018 menunjukkan bahwa pasar ritel masih lesu. Akan tetapi, pada 2019, akan ada tiga pusat belanja baru di Jakarta dan tiga lainnya di Bodetabek dengan total pasok mencapai 7,5 juta meter persegi yang akan mendorong pertumbuhan pasar ritel. “Dengan demikian, total tambahan pasok 2019-2021 mencapai 600 ribu meter persegi, 70 persennya ada di Jakarta. Namun yang mulai beroperasi 2018 hanya Pesona Square Depok,” tutupnya.

Lebih lanjut Ferry menuturkan, di tahun 2019 hingga 2021, pembangunan mal diprediksi akan tetap marak. Hal ini sejalan dengan geliat sektor ritel serta selesainya pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung di Jabodetabek. Berkaca dari tingkat okupansi sepanjang tahun 2018, tingkat keterisian tenan mencapai 83,6% yang diprediksi akan naik sebesar 2% di tahun depan. “Proyeksi 2019 sampai 2021 kondisinya begairah, ini juga sejalan dengan penyelesaian pembangunan sejumlah infrastruktur di Jabodetabek. Infrastruktur mendukung geliat bisnis ritel,” ujar Ferry.

Karena baru akan menggeliat pasca pilpres hingga 2021, sebut ferry, maka tahun ini operator mal belum akan menaikkan harga sewa toko dan outlet hingga akhir tahun. Kalau pun ada kenaikan, hanya 1-2% per tahun hingga 2021. “Secara proyeksi, harga sewanya stagnan. Kemungkinan beberapa operator mal masih menahan harga sewa sampai akhir tahun. Mungkin hanya mal-mal besar dan sudah punya nama saja yang akan menaikkan harga sewa. Sebagian besar mengutamakan keterisian tenan daripada menaikkan harga,” tandasnya.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia