Monitor: Strategi JO-JV Pengembang Berbagi Profit, Meminimalisir Resiko

04 December 2017 12:19

Developer membagi risiko dengan menekan belanja modal untuk melakukan ekspansi. Mitra strategis lokal dianggap lebih mengerti aturan dan karakter wilayahnya.

Banyak cara yang bisa dilakukan developer untuk mengembangkan sebuah proyek properti. Salah satunya bermitra dengan pihak lain. Banyaknya keuntungan yang bisa diraih membuat tidak sedikit developer menjalankan strategi kemitraan.

Kondisi bisnis properti yang kurang baik seperti sekarang ini pun ikut mendorong sejumlah pelaku usaha properti memilih langkah dengan mencari mitra strategis dalam pengembangan proyek ketimbang memperbanyak cadangan tanah.
PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) mengaku akan terus mengoptimalkan upaya menggandeng mitra strategis lokal dalam mengembangkan proyek-proyek besutannya. Agung Wirajaya,
Assistant Vice President Head of Strategic Residential Marketing Division PT Agung Podomoro Land, Tbk. (APLN) mengungkapkan selama ini mitra strategis lokal dianggap lebih mengerti aturan dan karakter wilayahnya.

Jika bermitra di bawah bendera APLN, maka komposisi kepemilikan perusahaan akan lebih besar di atas 50%. “Selalu seperti ini, kami semua bermitra untuk mengembangkan proyek, sehingga
selalu kami membidik pemilik lahan lokal untuk kerja sama. Lebih aman juga karena pemilik lahan lokal pasti lebih tahu aturan karakter wilayahnya,” kata Agung. Terbaru, APLN akan mengembangkan proyek Podomoro Park seluas 100 hektare di Bandung Selatan. Proyek ini juga akan bekerja sama dengan pemilik lahan lokal.

Hal yang sama dilakukan Synthesis Development. Project and Operation Director Synthesis Development Fianty R Gosa mengatakan, pihaknya berupaya membagi risiko dengan menekan belanja modal dalam upaya melakukan ekspansi. Selain itu dengan cadangan lahan yang belum banyak dikuasai perusahaan, maka akan lebih efektif mengembangkan suatu proyek bekerja sama dengan pemilik lahan.

Rencananya Synthesis Development akan menggandeng pemiliki lahan lokal di Pontianak, Kalimantan Barat untuk mengembangkan 200 unit rumah tapak. Proyek itu akan lepas dengan menyasar segmen menengah dengan harga di bawah Rp1 miliar. “Belanja lahan tak akan terlalu banyak dengan penyerapan yang masih lemah. Terutama kondisi konsumen yang juga masih menahan diri,” kata Fianty.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:

https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia