Obsesi 6 Pengembang Bangun Fondasi di Lantai Bursa (2)

17 April 2018 13:03

Analis Binaartha Parama Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama menuturkan, bertambahnya emiten properti di tahun ini masih dianggap menarik. Terlebih, dengan adanya sentimen suku bunga acuan BI masih tergolong cukup rendah sehingga bisa mendorong masyarakat untuk memiliki properti.

“Ditambah lagi dengan penggunaan dana IPO nantinya untuk tujuan ekspansi bisnis sangat diminati oleh pelaku pasar dibandingkan dengan refinancing,” kata Nafan seperti dilansir dari laman cnbcindnoesia. com. Dirinya menilai, price earning ratio (PER) yang ideal untuk perusahaan ini adalah 15 kali.

Selain itu, dengan gencarnya perbankan berlomba-lomba untuk memberikan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) rendah dianggap akan menguntungkan perusahaan properti. Sebab, dengan rendahnya bunga maka akan mendorong masyarakat untuk melakukan pembelian dan akan berdampak pada marketing sales perusahaan.

Samsul Hidayat, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, mengatakan, animo calon emiten untuk listing pada kuartal I tahun ini memang cukup tinggi. Namun, banyaknya emiten baru tersebut, menurut Samsul, bukan selalu karena kondisi pasar dianggap sedang bagus, melainkan karena para calon emiten tersebut memang sudah lebih siap untuk saat ini. ”Bahkan ada yang persiapannya sudah sejak 3 tahun lalu,” katanya.

Seperti dikatahui, pada akhir 2017, jumlah emiten yang sudah mencatatkan saham di BEI mencapai 566 perusahaan. Dari jumlah tersebut, 54 diantaranya merupakan emiten lini bisnis properti dan real estate dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp250 triliun. Secara umum, kinerja sektor properti sepanjang tahun 2017 lalu, bahkan hingga 3 tahun terakhir, nyatanya belum terlalu enggembirakan.

Tahun 2017 yang diprediksi sebagai tahun pemulihan, nyatanya belum cukup ampuh untuk mendorong saham emiten-emiten properti yang terdepresiasi. Berdasarkan data dari BEI, indeks sektor properti, real esate dan konstruksi bangunan sepanjang 2017 turun 4,31% di saat IHSG justru melonjak 19,99%.

Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Capital, mengatakan, bahwa price earning ratio (PER) dari emiten-emiten properti saat ini masih relatif rendah, rata-rata kurang dari 15 kali. Padahal, dalam sejarahnya saham-sahamnya emiten properti biasanya diperdagangkan pada PER di atas 20 kali. Hal tersebut mencerminkan bahwa investor saat ini belum cukup percaya diri untuk mentransaksikan saham emiten-emiten properti di level tertinggi mereka biasanya berada.

Dengan kata lain, saham emiten-emiten properti belum cukup menarik di mata sebagian besar investor di bursa. “Dengan kondisi itu, kalau calon emiten properti tetap ngotot mau IPO, ada dua pilihannya. Pertama, mereka harus cari anchor investor atau standby buyer. Kedua, mereka cukup bersedia untuk melepas saham dengan valuasi yang terdiskon,” katanya, seperti dilansir dari bisnis.com. Lantas, bagaimana dengan prospek IPO para calon emiten dari sektor properti tahun ini?

Direktur Utama Wika Realty, Agung Salladin sendiri cukup optimis jika peluang sektor properti pada 2018 akan bangkit kembali. Untuk tahun ini, misalnya. Wika Realty sudah kebanjiran berbagai proyek. Setidaknya ada 22 proyek yang tersebar di 13 kota dan 9 provinsi akan digarap pengembang dengan umbrella brand bertajuk Tamansari ini. Sementara, Dafam Property cukup optimis untuk menambah lima hotel baru dan landbank seluas 2,5 hektar. MPI Riz

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia