Outlook Bisnis Properti 2019: Outlook Properti 2019 Mengharap Berkah di Tahun Politik

14 December 2018 11:01

Setelah mengalami perlambatan sejak tahun 2015, hingga saat ini sektor properti indonesia masih belum menujukkan pertumbuhan yang signifikan. Rendahnya tingkat penyerapan penjualan menjadi salah satu indikator. Berbagai kebijakan dan stimulus agar bisnis ini kembali berjaya sebenarnya sempat dilakukan pemerintah dan membuat para pelaku usaha di industri pada modal tersebut optimis. Nyatanya, sektor properti masih belum menunjukkan keperkasaannya, setidaknya dalam lima tahun terakhir. Bagaimana dengan tahun 2019?

TAHUN 2019 menjadi tahun penting bagi masyarakat Indonesia. Sebab, di tahun dengan shio babi tanah ini, Indonesia akan menggelar dua pesta demokrasi sekaligus, yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Di kalangan masyarakat, khususnya para pelaku usaha, tahun politik disikapi beragam. Maklum, politik kerap dianggap sebagai momok bagi dunia usaha, tak terkecuali industri properti. Menurut pandangan mereka, tahun 2019 yang notabene merupakan tahun politik dianggap sebagai pelemahan bagi iklim bisnis karena pada momen ini masyarakat dan para investor memilih wait and see sampai agenda politik selesai.

Namun, benarkah tahun politik menjadi faktor utama terjadinya pelemahan ekonomi dalam negeri, termasuk sektor properti? Menilik dari pengalaman beberapa tahun terakhir yang menjadi tahun politik yaitu tahun 2004, 2008 dan 2014, perekonomian Indonesia relatif berjalan normal. Artinya, tahun politik tak pernah benar-benar berdampak besar terhadap tren pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, faktor eksternal lah yang diyakini lebih banyak menekan ekonomi Indonesia. Misalnya, pelemahan ekonomi secara global, sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta normalisasi kebijakan moneter Federal Reserve.

Pada tahun 2018, sektor properti secara umum belum mengalami pertumbuhan yang signifikan. Tingkat penyerapan yang masih rendah adalah indikator yang berkorelasi pada pelemahan tersebut. Selain itu, ekonomi yang melambat dan pelemahan Rupiah terhadap Dollar US merupakan kontributor utama, yang mengakibatkan berkurangnya daya beli di kalangan menengah ke atas.

Meski begitu, kondisi ini diproyeksi tidak akan berlangsung lama lagi, terlebih melihat siklus properti di Indonesia yang telah mengalami stagnasi harga sejak tahun 2015. Beberapa faktor yang memperkuat optimistis tersebut adalah pertumbuhan pasar yang lebih kuat di tahun-tahun mendatang dan telah dibuktikan dengan konsistennya pertumbuhan ekonomi yaitu di atas 5% selama lima tahun terakhir.

Selain itu, kebutuhan dan permintaan hunian yang terus meningkat, keyakinan daya beli masyarakat, serta faktor eksternal seperti pengembangan infrastruktur dan kebijakan pemerintah yang mendukung investasi seperti kebijakan kepemilikan asing. Faktor-faktor inilah yang membuat pelaku usaha optimis jika pasar akan meningkat siginifikan pada semester II 2019 dan di tahun-tahun mendatang.