Pasar Apartemen Menengah-Bawah Tetap Bergairah

13 April 2018 10:40

Pasar menengah ke bawah masih akan menjadi andalan pertumbuhan properti. Kontribusinya cukup besar, yakni lebih dari 50% dari pasar perumahan saat ini. Potensi residensial menengah-bawah disinyalir tetap besar mengingat backlog rumah di Indonesia masih mencapai belasan juta unit.

Hunian vertikal alias apartemen terus tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Para pengembang berlomba-lomba membangun apartemen di setiap sudut wilayah Jabodetabek. Pertumbuhan jumlah penduduk yang mendorong permintaan tempat tinggal, menjadi salah satu pemicu moncernya bisnis hunian jangkung. Selain itu, pertumbuhan ekonomi kawasan Jabodetabek dinilai relatif lebih baik dibandingkan kawasan lain.

Menurut catatan Konsultan properti Colliers Internasional Indonesia, pembangunan apartemen tahun 2018 hingga 2020 bakal meningkat hingga 62.116 unit. Alasannya, pembangunan pada 2017 paling rendah dalam 7 tahun terakhir karena isu finansial dan izin pemerintah sehingga menggeser waktu penyelesaian. Tahun lalu, hanya 8.130 unit dari target 21.167 tambahan pasokan baru.

Dari jumlah apartemen yang tersedia di Jabodetabek itu, sekitar 52,7 persen adalah apartemen menengah, atau yang memiliki harga jual Rp15-Rp25 juta meter persegi, atau berkisar Rp250 juta-Rp600 jutaan.

Manager Colliers Internasional Indonesia Rizal Gobi mengungkapkan, menjamurnya pasar apartemen menengah ke bawah dimulai dari akhir tahun 2016 lalu. “Saat ini, memang jumlah pasokan apartemen di segmen tersebut terbilang tinggi, namun diperkirakan di tahun ini pasar tersebut masih positif, sehingga walaupun dalam jumlah yang besar masih dapat terserap” ungkap Gobi.
(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia