Pengembang Muda; Edwin Witarsa NG, Kuncinya Visioner & Paham Pasar

09 March 2018 11:16

Edwin salah satu pengembang muda yang diulas Majalah Properti Indonesia edisi Maret 2018. Edwin kata MPI bukan pengembang biasa. Usianya baru 37 tahun tapi sudah menjadi juragan dari berbagai bidang bisnis berbeda.

Di industri properti yang menjadi core bisnisnya, beberapa portofolio besar telah berhasil dikantongi pria berkacamata yang selalu terlihat ceria ini. Mulai dari perumahan, hospitality maupun ritel yang tersebar di beberapa kota seperti Medan, Pekanbaru, Bintan dan Bali dengan total asset mencapai Rp500 miliar. “Dalam mengembangkan suatu proyek saya berusaha untuk realistis dan visioner,” ujar Edwin Witarsa Ng, CEO sekaligus pendiri PT Stareast Sejahtera Grup.

Di jagad properti dalam negeri sendiri, reputasi Edwin melalui PT Stareast Sejahtera Grup (SSG) memang belum setenar deretan pengembang muda yang telah lebih dulu eksis. Maklum, sebagai pengembang Edwin memilih Pekanbaru dan Medan sebagai start up bisnisnya. Meski begitu, bukan berarti Stareast bisa dipandang sebelah mata.

Untuk proyek di Bintan, misalnya. Edwin sukses mengembangkan beberapa portofolio sekaligus, tepatnya di Kawasan Wisata Terpadu, Lagoi, Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Diantaranya, kondominium hotel bertaraf internasional bertajuk Grand Lagoi Condotel by Swiss-Belhotel International, kondotel dan serviced apartment Quincy Heritage yang dioperatori Far East Hospitality (FEH) serta Bintan Market Place dengan total investasi lebih dari Rp700 miliar. Sementara di Bali, Edwin bersama partnernya juga merambah bisnis perhotelan dengan mengembangkan hotel Grand Summit Pecatu di Kawasan Pecatu Indah Resort dengan investasi senilai Rp250 miliar.

Grand Lagoi Condotel merupakan kondomium hotel delapan lantai yang merangkum 196 kamar di atas lahan seluas 1 ha, sementara, Quincy Heritage merangkum 209 unit kamar dengan rincian 130 unit kondotel, 30 unit suites serta 49 unit serviced residence. Sementara, Bintan Market Place adalah area komersial yang menghimpun 41 unit ruko dengan tampilan fasad yang unik.

Area komersial yang terinspirasi dari Clark Quay di Singapura ini menyuguhkan konsep sedikit berbeda, karena mengusung open air stage di tengah-tengahnya. Adapun, Grand Summit Pecatu merupakan bangunan 4 lantai dengan total luas area 2,5 ha yang menghimpun 388 unit kamar.

Untuk merealisasikan sejumlah proyek tersebut, Edwin mengaku mengandalkan investasi yang bersumber dari internal perusahaan dan perbankan, meski tidak dominan. “Grand Lagoi Condotel sejak awal 2015 lalu telah beroperasi dengan okupansi rata-rata diatas 70%,” ujarnya. Yang menarik, masuknya Edwin melalui Stareast di Bintan seakan memutus dogma jika area resort di Lagoi merupakan kawasan ekslusif yang hanya dapat diakses oleh segelintir orang, khususnya wisatawan asing dan kalangan atas semata. “Dan, imej tersebut mulai terkikis dengan masuknya Stareast ke Bintan Resorts,” sebut Edwin.
Untuk mengi8kuti kisa inspiratifnya , dapat majalah Properti edisi maret 2018 atau klik di versi digital di:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia