Prasada Mahata Serpong Apartemen Nempel Stasiun Commuter Lline Rawa Buntu

12 February 2019 12:46

Dengan diterapkannya konsep TOD, para penghuni diharapkan dapat memiliki gaya hidup yang dinamis dan lebih sehat tanpa perlu mengkhawatirkan soal kelengkapan fasilitas di dalamnya.

Perum Perumnas bekerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengembangkan proyek apartemen bertajuk Prasada Mahata Serpong. Mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD) atau hunian yang langsung terhubung dengan transportasi massal, dalam hal ini stasiun commuter line. Dengan konsep ini diharapkan para penghuninya akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik karena kemudahan akses transportasi tanpa mengeluarkan banyak biaya dan punya lebih banyak waktu untuk keluarga.

Dibangun terintegrasi dengan stasiun commuter line Rawa Buntu, Prasada Mahata Serpong berada di lokasi yang strategis. Pasalnya stasiun Rawa Buntu merupakan salah satu stasiun vital yang menghubungkan Jakarta dengan Tangerang. Selain itu Prasada Mahata Serpong juga memiliki akses yang mudah ke berbagai tempat, seperti tidak jauh dari Tol Jakarta-Serpong, Eka Hospital dan AEON Mall.

“Sebelumnya proyek apartemen terintegrasi stasiun sudah kami kembangkan di stasiun Tanjung Barat (Jakarta Selatan) dan stasiun Pondok Cina (Depok, Jawa Barat) di jalur kereta komuter Bogor-Depok-Jakarta. Di stasiun Rawa Buntu ini menjadi proyek kami yang ketiga. Minat konsumen luar biasa yang membuat kami juga bersemangat mengembangkannya,” ujar Bambang Triwibiwo, Direktur Utama Perum Perumnas.

Lebih lanjut dikatakan Bambang, proyek Prasada Mahata Serpong berdiri di atas lahan 2,4 hektar. Nantinya proyek ini bakal dikembangkan menjadi enam tower dengan total 3.632 unit hunian. Tahap pertamadibangun tiga tower (1.816 unit) dengan rincian 1.486 unit apartemen komersial dan 330 unit apartemen bersubsidi. Tipenya studio 21,9 m2, 1 kamar tidur (KT) 34 m2, dan 2 KT 35,9-60,4 m2.“Perizinan proyek sudah selesai sehingga kami optimistis tahap pertama bisa diselesaikan tahun 2020,” ujarnya.

Saat ini perizinan sudah rampung dan pembelian unit dapat dipesan di kantor marketing Perum Perumnas yang salah satunya berada di stasiun Rawa Buntu. Direktur Koorporasi dan Pengembangan Bisnis Perum Perumnas Galih Praharnanto menyebutkan bahwa pihaknya menyediakan beragam skema pembayaran.

“Skema pembayaran macam-macam. Kalau Rusunami saya kira jelas, uang muka cuma 1%. Coba bayangkan kita jual Rp250 juta, uang muka cuma Rp2,5 juta. Ngumpulin duit sama pacar bisa dapet, habis itu cicil 20 tahun,” ungkap Galih. Adapun syarat bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang boleh membeli hunian ini, salah satunya adalah, belum punya rumah. Hal tersebut harus dilengkapi surat kereterangan dari pihak berwenang.

“Penghasilan juga tidak boleh lebih dari Rp7 juta. Yang penting juga yang bersangkutan memberikan surat pernyataan, harus digunakan sendiri, tidak dibisniskan,” imbuhnya. Dengan begitu, lanjut Galih, yang dapat menempati hunian hanyalah warga yang benar-benar membutuhkan. Pengembang tidak segan menarik kembali unit yang telah terbeli jika si pembeli pada kemudian hari diketahui tidak sesuai persyaratan. “Kita bisa ambil lagi unit itu kalau ternyata yang tinggal bukan pemilik asli,” tegasnya.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia