Q-1/2018 Apartemen Stabil, Office Tumbuh, KI Terpukul (2)

30 May 2018 10:15

Selain perkantoran, aktfitas penjualan apartemen juga berlangsung cukup stabil dengan tingkat penjualan rata-rata mengalami kenaikan dibanding triwulan sebelumnya sehingga berada di angka 64%. Menurut laporan konsultan JLL, sekitar 1200 unit apartemen terjual sepanjang kuartal I 2018 yang didominasi penjualan proyek apartemen kelas menengah dan menengah bawah.

Dominasi proyek apartemen kelas menengah juga telihat dari 900 unit baru yang diluncurkan pada kuartal ini. “Secara umum pergerakan harga kondominium masih cenderung stagnan dengan sedikit peningkatan di kelas menengah dan menengah bawah dikarenakan permintaan terbesar masih berasal dari kelas tersebut,” ujar Luke Rowe, Head of Residential JLL.

Sementara itu, Colliers International mencatat pada kuartal I-2018, harga rata-rata apartemen di wilayah DKI Jakarta mengalami penurunan sebesar 0,4% atau menjadi Rp32,8 juta per meter persegi dibanding kuartal IV-2017 sebesar Rp33 juta per meter persegi. Penurunan harga tertinggi terjadi pada apartemen di kawasan Jakarta Selatan dengan penurunan hingga 1,59% atau menjadi Rp37,2 juta per meter persegi dibanding kuartal IV-2017 sebesar Rp38,4 juta per meter persegi.

Penurunan terbesar berikutnya yaitu harga apartemen di kawasan CBD (Central Business District) Jakarta yang menjadi Rp 50,6 juta per meter persegi atau turun sebesar 0,7% dibandingkan kuartal sebelumnya Rp51 juta per meter persegi.

Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto, mengatakan, pasifnya harga apartemen di sebagian besar wilayah DKI Jakarta tersebut disebabkan karena terjadinya persaingan yang ketat antara pengembang kelas menengah atas dengan pengembang yang menawarkan konsep harga lebih murah. Dengan demikian, developer apartemen kelas menengah atas tersebut mulai mengikuti pola harga rata-rata pasar apartemen secara keseluruhan agar tetap mendapatkan potential buyer.

Tidak seperti dua sub sektor sebelumnya, selama triwulan I 2018 sub sektor ritel tidak terlalu menggambarkan dinamika pasar yang juga mengalami sediki perubahan atau transisi. Berada dalam era digital membuat peritel dan landlord lebih kreatif untuk beradaptasi dengan tren yang sedang berlangsung. Menurut JLL, program marketing yang atraktif, renovasi dan perubahan konsep serta desain adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh peritel dan landlord untuk menarik konsumen berkunjung. “Saat ini tingkat hunian berada di 88% dan proporsi sektor F&B akan mengalami kenaikan menggantikan proporsi Department Store yang luasannya semakin berkurang. Area F7B yang semula rata-rata sekitar 10% kini menjadi 20% – 30% di beberapa pusat perbelanjaan,” sebut Cecilia Santoso, Head of Retail JLL.

Sementara itu, Konsultan properti Colliers International memperkirakan pasokan ruang ritel atau pusat perbelanjaan di Jakarta akan tumbuh melambat 4% menjadi 4,7 juta per meter persegi pada akhir tahun 2018. Pertumbuhan tersebut sudah terlihat di kuartal I 2018 yang naik menjadi 4,6 juta meter persegi. Colliers memproyeksi pasokan ruang ritel tersebut akan bertambah seiring beroperasinya New Harco Glodok di Jakarta Barat yang diluncurkan pada kuartal II 2018 mendatang. Selanjutnya di 2019 akan diluncurkan South Gate Aeon Mall dan juga Holland Village yang saat ini masih dalam progress pembangunan.

Kinerja negatif kawasan industri

Paruh pertama 2018 tercatat menjadi periode yang kurang mengesankan bagi sub sektor kawasan industri. Riset sementara yang dirangkum Colliers menunjukkan, penjualan lahan industri di kuartal pertama tahun ini tidak mencapai 10 hektare, dimana penjualan terbesar masih terkontribusi oleh kawasan industri Modern Cikande milik PT Modernland Realty Tbk. (MDLN) yakni seluas 3,55 hektare. Di posisi kedua ada kawasan industri MM2100 milik PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) seluas 2,52 hektare, Karawang International Industrial City (KIIC) anak usaha Sinarmas Land dengan lahan seluas 1,8 hektare serta lainnya yang berasal dari penjualan 4 perusahaan kawasan industri lainnya yang capaiannya tidak lebih dari 1 hektare.

“Meskipun tidak ada transasksi yang terjadipada triwulan I tahun ini, namun minat investor masih cukup positif terhadap bisnis properti di Indonesia. Beberapa investor Jepang, RRT, Hong Kong dan Singapura secara konsisten masih menunjukkan minat yang tinggi untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya sektor residensial dan logistik. Diharapkan di tahun politik yang akan datang, realisasi investasi asing dan lokal tidak menemui halangan yang signifikan,” harap Todd Lauchlan, Country Head JLL. /Riz/MPI

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia