Seberapa Ribet Take Over Proyek Macet?, Review Kasus (1)

03 January 2018 13:14

Majalah Properti Indonesia edisi Januari 2018 menurunkan tentang Take Over Proyek Macet. Edisi digital tersebut dapat diakese di link di akhir tulisan ini). Disebutkan meski investasi yang ditawarkan relatif lebih murah, namun tidak semua proyek macet layak untuk diambil alih. Diperlukan effort lebih agar proyek yang di take over kembali bercitra positif sehingga layak beli oleh konsumen.

Menurut Asriman Akhirudding Tanjung, praktisi dan pengajar properti yang juga penulis buku “Cara Benar Meraih Sukses di Bisnis Developer Properti”, dalam blog-nya asriman.com, mengatakan, banyak penyebab yang membuat developer tidak sanggup lagi meneruskan proyek sehingga
proyek menjadi macet, antara lain akibat kurangnya pamahaman mengenai karakteristik bisnis properti.

“Biasanya alasan yang jamak adalah penjualan tidak berjalan bagus, sementara kewajiban developer terhadap pihak ketiga sudah jatuh tempo. Kondisi ini bisa terjadi jika developer menggunakan uang pihak ketiga dalam memulai proyek, seperti pembangunan infrastruktur atau fasilitas umum dan fasilitas sosial,” ujar Asriman.

Kebutuhan awal proyek lanjut Asriman, biasanya adalah untuk land clearing, gate atau jalan perumahan supaya perumahan ‘berbentuk’ dan pembangunan beberapa show unit atau rumah contoh dapat menarik calon konsumen. Disinilah diperlukan pemahaman tentang pentingnya marketing dalam proyek properti karena marketing adalah ujung tombak setiap bisnis, apapun bisnisnya.

Ketidakmampuan menjual, kata Asriman, bisa jadi disebabkan oleh berbagai faktor. Diantaranya adalah tidak memiliki tim pemasaran yang bagus dan tidak memiliki metode-metode kreatif dan inovatif dalam pemasaran produknya. Sebab lainnya adalah developer memang salah dalam tahap analisa awal proyek, seperti salah dalam analisa harga pembelian dan analisa kompetitor, salah mengerti tentang harga tanah matang dan tanah mentah. Asal tubruk dalam membeli lahan tanpa analisa kelayakan.

“Selain itu tema arsitektur juga sangat menentukan dalam minat beli calon konsumen. Developer harus pintar-pintar menawarkan produk dengan desain yang lagi trend dan sesuai dengan selera di suatu daerah, menyesuaikan model dan tema desain dengan kearifan lokal,” kata Asriman.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia