Senjakala Bisnis Ritel Kita, Terlebih, Semakin Berkembangnya Bisnis online dari Waktu ke Waktu

08 March 2018 10:28

Paska jaringan peritel international semacam 7 Eleven, Lotus, Debenham, GAP serta Clarks memilih menutup gerainya di Indonesia, banyak pihak yang memprediksi jika usia ritel modern dan pusat perbelanjaan di Indonesia hanya tinggal menunggu waktu.

Di kalangan masyarakat, kabar tak sedap tersebut seketika menyeruak dan menjadi liar. Terlebih, dengan semakin berkembangnya bisnis online dari waktu ke waktu. Yang menarik, hengkangnya paritel besar itu justru tak menyurutkan tingkat okupansi dan pengunjung mal pada lapisan kelas menengah atas. Lantas, benarkah bisnis ritel di Indonesia mulai meredup dan tak lagi seksi?

BEBERAPA waktu terakhir, tutupnya gerai-gerai paritel besar kerap dikaitkan dengan sepinya pusat belanja dan menurunnya bisnis ritel. Padahal, kondisi semacam ini sudah diantisipasi jauh-jauh hari lewat moratorium mal (pusat belanja) di Jakarta sejak tahun 2011 lalu.

Maklum, sekitar 450 hektar lahan di Jakarta sudah sesak diisi mal. Tak kurang dari 564 pusat belanja dengan rincian 132 mal, sisanya swalayan, pusat grosir, pertokoan dan pasar tradisional.

Meski moratorium masih berlaku, namun tak menghalangi pembangunan sejumlah pusat belanja yang sudah berizin sebelumnya seperti Shopping Mall Soho di Pancoran, New Harco Plaza di Glodok, dan Aeon Mall Garden City. Selain itu, masih ada tujuh mal dalam rencana pembangunan hingga tahun 2019 di wilayah selatan, timur, dan pusat Jakarta dengan total lahan seluas 35,4 hektar.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia