Setelah Ditinggal Peritel Besar Nasib Sejumlah Shopping Mall 2019

12 February 2019 13:53

Rubrik “Monitor” Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Februari 2019 mengulas presdiksi bisnis mall 2019 setelah ditinggal sejumlah peretil besar.

Sejumlah mal mulai memutar otak untuk melakukan berbagai terobosan. Salah satunya mengubah konsep shopping mall one stop living entertainment.

Membuka tahun 2019, dua peritel besar memutuskan untuk menutup sejumlah gerainya. Di bulan Januari, setidaknya ada 26 cabang pusat perbelanjaan HERO yang memilih mengakhiri ’’perjalanannya hidupnya’’. Sedangkan, Central menutup 1 dari 3 gerainya pada Februari 2019. Penutupan sejumlah peritel besar ini sendiri bukan baru kali ini terjadi, namun sejak 2 tahun lalu dimulai dengan tutupnya 7 Eleven pada Juni 2017, beberapa gerai Ramayana di bulan Agustus, Lotus di bulan Oktober, Matahari Dept Store pada Desember dan gerai lisensi asa3 Inggris Debenhams di tahun tahun 2017. Menyusul berikutnya GAP, Banana Republik, New Look, Dorothy Parkins dan Clarks pada tahun 2018 yang menutup sejumlah gerainya.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta mengatakan, tutupnya sejumlah toko ritel tersebut merupakan hal yang wajar. Sebab, penutupan tersebut bergantung pada kinerja toko itu sendiri. “Saya kira ritel tutup buka itu biasa bagi kami, tetapi seberapa banyak yang ditutup seberapa banyak yang dibuka ini tergantung kondisi ekonomi, kan yang tutup outletnya bukan perusahaannya,” katanya.

Sementara itu, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto menuturkan, bisnis ritel di Indonesia tidak akan banyak terpengaruh oleh tren belanja online (online shopping). “Pengaruh tren online shopping tidak terlalu besar karena orang ke mal untuk cari pengalaman, tidak hanya beli barang,” katanya.

Menurut Ferry, berhentinya operasional sejumlah gerai menjadi implementasi dari perubahan konsep. Kondisi ini tidak bisa disebut sebagai ‘penutupan’ atau melemahnya daya tarik bisnis ritel sebagai dampak dari digitalisasi. Ferry menyebut saat ini ada kecenderungan tren menjadikan mal sebagai tempat untuk aktivitas bisnis (meeting). Berbeda dengan 2018, saat itu mal masih didominasi penyewa makanan dan minuman. Tahun ini, masyarakat akan banyak menjumpai, selain restoran, juga toko busana dan gerai kecantikan. “Orang masih ramai datang ke mal untuk mencari sebuah pengalaman, bukan hanya beli barang.