Siasat Pusat Perbelanjaan Hadapi Gempuran Bisnis Online (1)

11 August 2017 10:37

Agar terus bertahan dan berkembang dari gempuran bisnis e-commerce, berbagai inovasi dilakukan pusat perbelanjaan Dari mulai menggunakan materi yang eye cathcing, instalasi seni, hingga lanskap untuk meningkatkan tampilan mal agar lebih menarik.

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Agustus 2017 menurunkan ulasan tentang eksistensi mall di tengah gempuran tokok online. Berbagai strategi dan inovasi dilakukan pengelola mall untuk menarik bertahan sekaligus menarik pengunjung.

Selain itu menambah fasilitas hiburan dan rekreasi dan juga menggelar berbagai kegiatan yang bisa menarik banyak pengunjung. Seorang wartawati media online ternama, Ririn Aprilia menulis status
dalam akun Facebooknya, “Saya memang paling suka belanja online karena lebih simple, gak capek antri dll. Ada juga beberapa online shop yang sudah jadi langganan karena menurut saya fast respon, pelayanan bagus, terpercaya, barang bagus, sesuai testimoni, dan barang yang dibeli cepat sampai.”

Apa yang dikatakan Ririn bisa menjadi gambaran betapa masyarakat Indonesia sudah banyak yang menyukai berbelanja melalui online. Memasuki era digital, belanja online memang semakin digemari.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 mencatat, jumlah bisnis berbasis aplikasi mencapai 26,2 juta. Hal tersebut membuktikan bahwa bisnis online tengah berkembang hingga saat ini. Pertumbuhan bisnis online atau e-commerce di Indonesia sejalan dengan tingkat penggunaan internet yang tinggi.

Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan e-commerce, keberlangsungan pusat per belanjaan pun mendapat tantangan. Bloomberg melaporkan, lebih dari selusin pengecer (retailer) di Amerika Serikat telah bangkrut di tahun ini karena peralihan belanja ke online. Broker Cushman & Wakefield
Inc memprediksi sebanyak 13.000 toko akan tutup di tahun depan atau naik 225% dibandingkan penutupan 4.000 toko di tahun 2016.

Seorang Analis Bloomberg Intelligence Jeffrey Langbaum menilai, beberapa perusahaan tidak memiliki uang tunai untuk bertahan di tengah-tengah penutupan toko. Adapun tingkat kekosongan mal naik menjadi 8,1% di kuartal II 2017 dari 7,9% di kuartal I lalu. Di Indonesia, kehadiran bisnis online juga dirasakan dampaknya. Namun ba nyak pihak yang menilai dampaknya tidak terlalu besar dan tidak terlalu khawatir pusat perbelanjaan atau mal konvensional akan punah tergusur oleh bisnis jual beli online.

Menurut Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram, setiap bisnis memiliki pangsa pasar masingmasing. Artinya, bisnis online dan modern punya pangsa pasar yang beda kriteria
pembelinya. “Bisnis online ada pangsa pasarnya sendiri. Orang kadang lebih senang melihat langsung. Saya juga tidak percaya dengan menjamurnya bisnis online ini, mal-mal akan tutup. Mal bisa berimprovisasi, juga untuk toko-toko dan warung juga bisa berimprovisasi untuk menarik
pembeli,” tuturnya.

Hal yang sama dikatakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang percaya bahwa bisnis di pusat perbelanjaan mampu bertahan di tengah gempuran bisnis jual-beli online asal ada inovasi
yang dilakukan. Apalagi menurut Enggar masih ada kebutuhan dari masyarakat untuk melakukan kegiatan jual beli secara tradisional alias datang ke toko agar bisa membeli produk sembari melihat produk fisiknya secara langsung.

“Perlu inovasi dari pusat belanja. Pernah menyaksikan pusat belanja yang dulu pernah naik terus turun. Siklus akan seperti itu jika tidak ada inovasi,” kata Enggar. Inovasi yang dilakukan oleh pengelola pusat perbelanjaan, kata Enggar harus menyesuaikan kebutuhan masyarakat agar masyarakat tetap berminat untuk datang ke pusat perbelanjaan ketimbang beli barang
secara online.

“Pusat belanja di Indonesia yang baru ada perubahan mengenai mix-nya, perpaduan antara foodcort (outlet kuliner) di mana sinema (bioskop), di mana ada mix yang dilakukan,” ujar Enggartiasto. “Indonesia patut belajar dari negara lain. Memang online itu tidak sesuatu yang kita hadapi secara
nyata tapi nanti ke depan harus ada pegaturan yang lebih baik lagi. Dan kita harus belajar dari luar negeri,” papar Enggar

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis).