Teknologi Digital; Ancaman atau Kawan bagi Broker Properti

13 March 2019 16:33

Majalah properti Indonesia di rubrik monitor menurunkan ulasan tentang teknologi digital bagi broker properti.
Pengusaha ritel merupakan pihak yang terkena dampak langsung dengan hadirnya teknologi digital terutama sektor elektronik dan fashion atas kehadiran teknologi digital . Begitu mudahnya sekarang orang membeli gadget dari situs unicorn seperti Tokopedia dan BukaLapak. Sepatu, baju dan celana juga mudah mereka dapatkan hanya dengan jempol.

Lalu bagaimana dengan properti sendiri? Bisakah bertransaksi properti secara online dan mampu menggantikan peran broker? Menurut Irvan Ariesdhana, Country Manager 99.co Indonesia, kecanggihan teknologi di bidang properti belum bisa menggantikan peran broker.

“Kalau kita berbicara bukan properti misalnya consumer goods, elektronik dan fashion, teknologi dapat menggantikan yang konvesional. Tapi kalu misalnya properti, nature untuk bisnisnya sendiri adalah high impolvement dari si calon pembeli sehingga si calon pembeli harus datang untuk melihat barangnya,” ujar Irvan kepada Properti Indonesia.

“Kadang suaminya udah oke, istrinya masih belum. Kadang suami-istri sudah oke mertuanya belum. Kadang anak-anaknya juga pegang decision. Jadi enggak bisa pure online benar-benar menggantikan seluruh segmen,” lanjut Irvan.

Meski demikian, Irvan berpendapat bahwa teknologi di digital properti memiliki banyak manfaat. “Kita lihat online membuat sistem transaksi menjadi bisa lebih cepat, spending untuk iklan mungkin lebih efisien. Tapi kalau untuk menggantikan proses transaksinya enggak bisa,” jelasnya.

Beberapa transaksi di properti juga sudah bisa dilakukan secara online meski tidak secara keseluruhan. Irvan bercerita bahwa tahun lalu pihaknya menjual komitmen fee kepada penjual. “Jadi semacam electronic voucher dan mereka harus bawa voucher itu ke marketing galeri untuk ditukarkan dengan diskon-diskon ketika mereka jadi beli. Tapi mereka harus benar-benar ketemu,” papar Irvan.

Kalau untuk jualan NUP (Nomor Urut Pembelian), Irvan menilai hal itu masih bisa dilakukan, “Cuma kalau memang harus booking, nah itu rada sulit karena itu harus ketemu unsur manusianya,” imbuhnya.

Senada dengan Irvan, Ignatius Untung, Mantan Country Manager Rumah123.com juga mengatakan bahwa transaksi online di bidang properti masih belum terlihat. “ Masih belum bisa karena pertama, transaksi online ada biaya. Biaya itu besarannya persentasi dari harga barangnya. Properti nilainya miliaran, siapa yang mau nanggung biaya transaksi?”

Sehebat-hebanynya online, lanjut Untung, orang harus masih visit. “Pertama mereka cari online, kemudian dia lihat secara offline, abis itu baru memutuskan,” ujar Untung. Jadi menurut Untung, 5 tahun lagi pun transaksi di properti masih belum. “Broker properti masih dibutuhkan,” ucapnya.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia