Top 20 Developer 2018 Melirik Kinerja Developer. Laporan Utama Majalah Properti Indonesia edisi Maret 2019.

12 October 2018 14:00

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Maret 2019 menurunkan laporan utama (Fokus) mengenai kinerja 20 besar pengembang tanah air.

Sepanjang triwulan – III 2018 sebagian besar pengembang mencatatkan kinerja positif, meski tak sedikit yang mencatatkan hasil negatif. Menunda peluncuran proyek-proyek baru, memodifikasi produk dan berkonsentrasi pada penyelesaian proyek eksisting masih menjadi strategi sebagian besar developer untuk bertahan. Komposisi penghuni top 20 developer juga mulai berubah bila dibandingkan dengan kinerja pada triwulan iii 2017 lalu.

Dari 25 developer yang laporan keuangannya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya 15 perusahaan yang berhasil membukukan kinerja pertumbuhan dengan hasil postif, sementara lainnya masih negatif.
Hasil riset sejumlah konsultan properti mencatat, sepanjang 2018 pertumbuhan sektor properti masih belum menunjukkan kegairahannya. Penyebab penurunan di segala lini sub sektor tersebut dipengaruhi beragam kondisi perekonomian, baik nasional maupun di tingkat global. Dengan kata lain, sektor properti saat ini memang masih belum pulih benar.

Padalah, Pemerintah sendiri sebenarnya telah berusaha maksimal dalam mendorong investasi di sektor properti dan infrastruktur. Mulai dari menurunkan suku bunga KPR, mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang memangkas segala perijinan hingga Tax Amnesty. Pemerintah juga berjanji untuk kembali memberi insentif berupa pemotongan Fasilitas Pajak Penghasilan dan Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar 5 persen bagi pengembang yang membangun propertinya di dalam negeri.

Ironinya, beragam kebijakan yang dianggap sebagai solusi dari pemerintah tersebut justru ibarat panggang jauh dari api. Survey yang dilakukan Properti Indonesia justru menunjukkan bahwa berbagai kebijakan tersebut sama sekali belum berdampak, khususnya bagi iklim usaha properti di daerah-daerah.

Terpukulnya sejumlah pelaku usaha di industri properti dalam negeri sejak beberapa waktu terakhir tak terlepas akibat melambatnya perekonomian dalam negeri dan menurunnya daya beli masyarakat. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global, khususnya di Cina disebut-sebut menjadi salah satu faktor utama pemicu perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kondisi ini kembali diperparah dengan laju suku bunga yang tinggi, pelemahan daya beli masyarakat, serta devaluasi Rupiah terhadap Dolar AS.

Bank Indonesia (BI) melansir penjualan properti terus mengalami penurunan sejak kuartal I sampai kuartal III tahun 2018. Berdasarkan survei BI terhadap pengembang (developer) perumahan di 16 kota, penjualan properti residensial kembali mengalami penurunan pada kuartal III. Secara total, penjualan rumah turun 14,14% dibandingkan kuartal sebelumnya (quartal to quartal/QTQ). Ini melanjutkan penurunan di kuartal I dan II.

Penurunan paling tajam dialami rumah tipe kecil yaitu 15,92%, diikuti rumah tipe menengah 11,14%, dan rumah tipe besar 11,11%. Sebagian responden berpendapat, penyebab penurunan penjualan pada kuartal III adalah penurunan permintaan konsumen, terbatasnya penawaran perumahan dari responden, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang tinggi, dan harga rumah yang kurang terjangkau oleh konsumen.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia