Hotel Bujet Booming Berlanjut di Tengah Persingan Ketat (3)

23 February 2018 15:19

Tren permintaan hotel ditaksir terus meningkat seiring getolnya pemerintah menargetkan kunjungan wisman. Seperti diketahui, pemerintah menargetkan kunjungan wisman hingga 20 juta orang pada 2020. Dari 1,21 juta kunjungan wisman yang datang ke Indonesia pada September 2017 berasal dari China 15,04 persen, Singapura 10,13 persen, Australia 9,77 persen, Malaysia 8,80 persen, dan Jepang 4,64 persen.

Riset Colliers Indonesia menunjukkan tingkat okupansi hotel hingga kuartal ketiga tahun 2017 lebih baik sepanjang tiga tahun terakhir. Peningkatan okupansi hotel ini juga dipicu penambahan kamar hotel di tahun 2017. Ada sekitar 1.767 kamar hotel baru dengan dominasi hotel bintang 4 sebanyak 983 kamar, 534 kamar hotel bintang 3 dan 250 kamar hotel bintang 5. Sementara total pasokan kamar hotel hingga akhir 2017 berjumlah 39.430 dimana 11.250 kamar didominasi hotel bintang tiga, 15.337 kamar hotel bintang empatdan 12.843 kamar hotel bintang lima.

Ferry Salanto menilai, saat ini pasokan untuk hotel bujet sudah cukup banyak sehingga apabila pertumbuhan itu tetap terjadi dalam kondisi ekonomi yang belum membaik, maka akan cukup memberatkan kinerja. Pasalnya, kinerja penyerapan hotel bujet juga bergantung pada level kegiatan bisnis yang dilakukan konsumen hotel.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan pertumbuhan kamar hotel akan terjadi mulai dari hotel bintang satu sampai hotel bintang lima.

Menurutnya di tahun 2018 puluhan ribu kamar hotel baru diperkirakan bakal bertambah. “Proyeksi yang jelas kalau catatan kami itu akan ada tambahan kamar sekitar 55.000 kamar se-Indonesia dari 300-an hotel,” kata Hariyadi.

Menurut data PHRI, sejauh ini, jumlah kamar hotel berbintang di Indonesia tercatat lebih dari 290.000 dari 2.300 hotel. Sementara, jumlah kamar hotel non bintang diperkirakan 285.000 dari sekitar 16.000 hotel. Melihat banyaknya kamar hotel yang tersedia, PHRI meminta pemerintah daerah dapat melakukan moratorium izin pembangunan hotel baru yang bertujuan untuk melindungi persaingan bisnis hotel yang tidak sehat seperti banting harga.

Bali adalah salah satu kota pariwisata yang belum lama ini mengalami penurunan tingkat hunian. Bahkan, hotel-hotel di Ubud menurunkan harga hingga sebesar 30% dampak dari meletusnya Gunung Agung.

Menanggapi penurunan tarif ini, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, berharap hotel-hotel tidak melakukan banting harga seperti ini.”Penurunan tarif ini terjadi secara parsial. Kasus per kasus, sebab menjadi kebijakan masing-masing perusahaan. Tapi kami PHRI sebenarnya tidak berharap banting harga seperti ini, karena nanti akan sulit untuk menaikkannya lagi,” katanya.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia