Hotel Bujet Booming Berlanjut di Tengah Persingan Ketat (5)

23 February 2018 15:43

Selain pesarnya hotel bujet yang menggunakan jaringan operator lokal maupun asing, maraknya bisnis booking online ikut mendongkrak peningkatan jumlah wisatawan dan tingkat hunian kamar hotel. Bali salah satu kota dimana hampir mencapai 50 persen dari total pemesanan kamar, berasal dari agen travel asing. Sebut saja Agoda, Booking.com, Traveloka, Zen Rooms, Red Doors dan lainnya.

Kendati keberadaan mereka cukup membantu, namun di sisi lain para pengusaha hotel merasa dirugikan. Pasalnya, agen travel asing itu tak jarang meminta komisi dalam jumlah besar. “Sekarang kisaran komisinya itu antara 15 persen-30 persen,” kata Hariyadi Sukamdani.

Menurutnya, pemerintah tak bisa menarik pajak dari para agen travel daring asing ini. Hal itu disebabkan, rata-rata dari mereka tidak memiliki badan usaha tetap di Indonesia. Dengan demikian, pemerintah tak bisa memungut pajak sesuai ketentuan yang diatur di dalam Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26. Menurut Hariyadi, pengusaha perhotelan tentu enggan bila harus menanggung beban pajak yang semestinya dibayarkan agen travel asing kepada negara. Sementara di lain pihak, agen travel lokal justru bersedia membayar pajak sesuai peraturan dalam PPh Pasal 23.

Ia pun meminta pemerintah bersikap tegas dengan memblokir usaha agensi travel daring asing bila mereka tetap enggan membuka badan usaha tetap di Indonesia. “Kami minta pemerintah mendorong mereka menjadi badan usaha tetap di Indonesia,” katanya.

Mengikuti tren digital, bujet hotel Online Travel Agency (OTA) mengatakan sudah ada beberapa pemain spesifik yang hadir di Indonesia yang memfokuskan penawaran hotel bujet, sebut saja Airy Rooms, NIDA Rooms, RedDoorz, Tinggal hingga ZEN Rooms. Dari beberapa aplikasi booking hotel online yang menawarkan hotel bujet seperti Zen Rooms merajai dengan angka 11.64%, yang disusul RedDoors di angka 9,6% dan Nida Rooms 6,97%.

COO RedDoorz Rishabh Singhi dalam sebuah wawancara dengan DailySocial mengatakan, tren hotel bujetdi kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia sangat menarik. “Konsumen hotel di Asia Tenggara termasuk Indonesia, menginginkan servis yang memuaskan dan disaat yang sama mereka juga menginginkan harga yang kompetitif,” ujarnya. Sebagai sebuah startup, RedDoorz mengklaim telah menghasilkan uang sejak hari pertama, bahkan diperkirakan mencapai BEP akhir tahun 2017.

Sementara itu, Co-CEO ZEN Rooms Nathan Boublil dalam keterangannya menyebutkan Tahun 2017 ini bakal menjadi tahun kedua kehadiran Zen Rooms di Indonesia. Dalam 2 tahun, telah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, dengan 500 lokasi dan lebih dari 2 ribu kamar di Indonesia.
“Visi kami sejak awal selalu sama yaitu menghadirkan bujet hotel dengan harga paling murah namun dengan kualitas terbaik layaknya hotel berbintang,” kata Co-Founder dan Managing Director Zen Rooms Nathan Boublil kepada DailySocial.

Hingga kini Bali masih merupakan kota terbanyak yang menyediakan bujet hotel dengan harga miring sesuai dengan kriteria Zen Rooms. Bali menjadi destinasi favorit wisatawan lokal hingga asing yang mencari kamar hotel dengan harga murah, fasilitas lengkap (Wi-Fi, AC, shower dan kebersihan) di setiap kamarnya.

Di lain kesempatan, Presiden Direktur PT Amara Primatiga (Amaris Semarang) yang juga seorang konsultan properti dan motivator Handoko Wignjowargo mengungkapkan, okupansi hotel bujet kini justru mengalami penurunan. Beberapa faktor diantaranya akibat pertumbuhan pasokan yang berlebih (over supply) dan masuknya AirBnB di Indonesia. AirBnB merupakan online marketplace bagi orang-orang yang ingin menyewa dan menyewakan kamar pribadi, apartemen ataupun rumahnya.

“Di tahun 2009 saat saya membangun hotel Amaris di semarang, okupansi hotel bujet sangat baik. lalu karena hotel bujet booming akhirnya banyak yang kemudian mengikuti. Bahkan, ada yang membangun di segmen yang sama mereka mempunyai beberapa brand, padahal di grup yang sama. Hal itulah yang menyebabkan hotel bujet over supply” tutur Handoko.

Oleh sebab itu, menurut Handoko moratorium adalah salah satu hal yang dapat mengerem pertumbuhan hotel bujet baru, sehingga persaingan di segmen ini berjalan secara sehat. Selain over supply, hal lain yang menyebabkan hotel bujet menurun adalah adanya AirBnB yang masuk ke Indonesia.

Sebab, Handoko melanjutkan, harga AirBnB dinilai lebih miring jika dibandingkan dengan hotel bujet. “Daerah yang terkena imbas adanya AirBnB adalah Yogyakarta dan Bali. Sebab, wisatawan senang tinggal di daerah atau pedesaan dengan rumah-rumah gaya kuno,” katanya. MPI DR/RAG
(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia