Trend Hotel Bujet Booming Terus Berlanjut, Meski Persaingan Semakin Ketat. Prospek Investasi Hotel Bujet Saat Ini Nyatanya Masih Cukup Prospektif

01 February 2018 14:01

Meningkatnya kebutuhan akan hotel berkualitas baik, namun dengan harga terjangkau membuat pasokan hotel bujet semakin berlimpah. Mulai booming sejak satu windu terakhir, prospek investasi hotel bujet saat ini nyatanya masih cukup prospektif, meski persaingan yang terjadi pun semakin sengit. Perang tarif hingga bersaing dengan operator online menjadi hambatan terbesar bagi hotel kelas ekonomis tersebut.

Hotel bujet atau biasa disebut hotel kelas ekonomis masuk dalam kelompok hotel kelas bintang dua. Sesuai sebutannya, hotel itu memang hanya menawarkan hal-hal utama dari sebuah penginapan. Yaitu tempat tidur yang nyaman dan kamar mandi yang bersih.

Karena itu kenyamanan, keamanan dan kualitas adalah hal yang paling diutamakan dari hotel-hotel kelas ini. Yang membedakannya dengan hotel kelas melati yang juga bertarif murah adalah pelayanannya yang berstandar internasional, selain juga fiturnya yang lebih modern.

Di Indonesia, Pasar hotel kelas bujet mulai berkembang pesat sejak 2010 silam atau di saat mulai membaiknya kondisi makroekonomi yang sempat tersendat oleh krisis 2008. Stabilitas ekonomi tersebut ditandai dengan tumbuhnya kelas menengah di negeri ini. Seiring dengan hal tersebut, kebutuhan perjalanan bisnis meningkat.
Apalagi bujet airline juga berkembang, sehingga memudahkan perjalanan ke sejumlah kota kelas dua, seiring mulai bertumbuhnya bisnis pada kota – kota yang di sekitarnya terdapat pusat-pusat komoditas yang sedang naik daun, seperti batu bara dan kelapa sawit. Investasi di hotel kelas ini, diyakini sangat menguntungkan.

Area yang dibutuhkan cukup berkisar 850–2200 m2. Bangunan tidak harus tinggi, jadi ongkos konstruksinya bisa minimal. Di luar tanah, biaya pembangunannya paling banter Rp50 miliar dan maksimal Rp70 miliar-90 miliar. Masa pengembalian investasi juga tak sampai lima tahun. Bandingkan dengan bangun hotel bintang 5, yang perlu 8-10 tahun. Tenaga kerja yang dibutuhkan juga lebih sedikit. Satu orang bisa dikaryakan menangani 3 kamar. Sementara satu kamar hotel bintang 5 harus ditangani 2 orang pekerja. Begitu pula profit dari ongkos operasionalnya. Lebih menggiurkan.

Kalau hotel bintang 4 atau lima palTrend ing tinggi 40%, hotel murah ini justru bisa mencapai 60%.
(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia