Walau Lesu Pembangunan Mall Masih Marak dalam 4 tahun ke depan

12 February 2019 13:59

Secara umum, menurut Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto pembangunan satu pusat perbelanjaan di Jabodetabek pada 2018 menunjukkan bahwa pasar ritel masih lesu.

Akan tetapi, pada 2019, akan ada tiga pusat belanja baru di Jakarta dan tiga lainnya di Bodetabek dengan total pasok mencapai 7,5 juta meter persegi yang akan mendorong pertumbuhan pasar ritel. “Dengan demikian, total tambahan pasok 2019-2021 mencapai 600 ribu meter persegi, 70 persennya ada di Jakarta. Namun yang mulai beroperasi 2018 hanya Pesona Square Depok,” tutupnya.

Lebih lanjut Ferry menuturkan, di tahun 2019 hingga 2021, pembangunan mal diprediksi akan tetap marak. Hal ini sejalan dengan geliat sektor ritel serta selesainya pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung di Jabodetabek. Berkaca dari tingkat okupansi sepanjang tahun 2018, tingkat keterisian tenan mencapai 83,6% yang diprediksi akan naik sebesar 2% di tahun depan. “Proyeksi 2019 sampai 2021 kondisinya begairah, ini juga sejalan dengan penyelesaian pembangunan sejumlah infrastruktur di Jabodetabek. Infrastruktur mendukung geliat bisnis ritel,” ujar Ferry.

Karena baru akan menggeliat pasca pilpres hingga 2021, sebut ferry, maka tahun ini operator mal belum akan menaikkan harga sewa toko dan outlet hingga akhir tahun. Kalau pun ada kenaikan, hanya 1-2% per tahun hingga 2021. “Secara proyeksi, harga sewanya stagnan. Kemungkinan beberapa operator mal masih menahan harga sewa sampai akhir tahun. Mungkin hanya mal-mal besar dan sudah punya nama saja yang akan menaikkan harga sewa. Sebagian besar mengutamakan keterisian tenan daripada menaikkan harga,” tandasnya.

Senada dengan Senior Associate Director Retail Service Colliers, Steve Sudijanto mengatakan, konsep penutupan retail Hero, Central Department Store dan Metro Department Store di Manado juga ditutup sementara karena peritel tersebut sedang melakukan perubahan konsep dengan adanya penetrasi online yang membuat dunia ritel berubah. Apabila dulu masyarakat yang ingin belanja harus pergi ke toko, kini mereka dapat melakukannya melalui Android. “Ini membuat perubahan signifikan,” tuturnya.

Steve menjelaskan, Perubahan dunia ritel sudah dan akan terus terjadi. Misalnya, masyarakat dulu harus berbelanja di jam tertentu karena adanya pembatasan waktu operasional. Konsep ini kemudian diantisipasi dengan adanya minimarket 24 jam seperti Circle K. Kini, belanja menjadi lebih fleksibel dengan platform online. Dengan tuntutan digital, Stevel mengatakan, pelaku ritel harus melakukan reformasi konsep guna memenuhi cara belanja yang dapat mengakomodir dua tipe pembeli. Yakni, mereka yang suka berbelanja online dan atau offline atau juga kerap disebut sebagai pemasaran omnichannel.

Steve melihat, tren ini juga harus diantisipasi pusat perbelanjaan atau mall yang menjadi ‘rumah’ sejumlah ritel. Sebab, saat ini, pusat perbelanjaan bukan lagi digunakan sebagai tempat belanja, melainkan sosialisasi dan berbisnis. “Lama-lama, namanya bisa beralih menjadi pusat berbisnis dan bersosialisasi. Misal, untuk ketemu klien atau sekadar ngopi karena sumpek di rumah. Konteks ini sudah berevolusi,” ujarnya.

Dengan kondisi ini, Steve menganjurkan, para pengembang harus beradaptasi, memahami keadaan pasar dan mengerti permintaan pasar. Pusat perbelanjaan harus semakin fokus ke tempat berbisnis, relaksasi dan rekreasi seperti kafe yang menjadi daya tarik utama masyarakat untuk singgah ke pusat belanja. Hal ini harus dilakukan tanpa menghilangkan fungsi sebagai tempat belanja.

Sementara itu, Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), I Gusti Ketut Astawa, menuturkan, kunci untuk bertahan di tengah persaingan ritel minimarket adalah memahami target pasar. Ritel besar harus mengetahui lokasi mana saja yang memang sesuai dengan sasaran pasar mereka. Pun dengan produk yang dijual harus sesuai preferensi pasar mereka.

Selain itu Astawa menambahkan, pengusaha harus melakukan inovasi secara terus menerus. Khususnya dengan memanfaatkan marketplace yang kini sudah semakin menjamur. ”Namun saat ini, baru sebagian pelaku ritel modern yang telah masuk ke ranah online,” ujarnya.

Menghadapi minggatnya sejumlah peritel besar, tak pelak membuat sejumlah mal melakukan perubahan wajah, strategi hingga merenovasi tenan-tenan mereka. Salah satu strategi tersebut misalnya dengan memperluas areal food court menjadi area yang nyaman bagi hangout pengunjung. Bahkan, untuk menghadirkan suasana berbeda, pihak manajemen rela menutup food court selama berbulan- bulan demi menghasilkan perwajahan baru yang lebih cozy.

“Kami menggunakan bentuk dan pola yang terinsiprasi oleh wayang Indonesia, menciptakan suasana yang hangat dan ramah. Langit-langit dengan garis lengkung simetris dan pola yang bergerak selaras dengan pola lantai menunjukkan perhatian terhadap detail dalam semua aspek,” ujar Manager Marcom Senayan Square, Natalia Anita Atmarini.

Managing Directory Presiden Office Sinarmas Land, Dhony Rahajoe, mengatakan, perubahan mal menjadi milenial tidak lain untuk menggaet pasar anak muda berbelanja di mal. Inilah sebabnya, renovasi besar-besaran dilakukan agar mal semakin menarik. “Kami terus melakukan penyegaran dengan merubah bagian dalam mal menjadi lebih menarik serta Instagramable. Sejalan dengan pasar anak muda yang cukup besar di Semarang,” kata Dhony. Menurutnya, dengan menjadikan mal sebagai Instagramable akan menarik masyarakat mengunjungi mal.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia