Wawancara Ilham Akbar Habibie: “Kita Tidak Fokus ke Bisnis Properti”

10 May 2019 14:11

Persis empat tahun lalu, industri properti tanah air diramaikan dengan hadirnya proyek mega superblok Meisterstadt di Kota Batam. Sekilas, Meisterstadt memang tidak ada yang berbeda dengan proyek Mixed use kebanyakan. Namun, di mata investor proyek yang dalam bahasa Jerman berarti Kota master berstandar tinggi ini terbilang istimewa.

Selain mengusung konsep yang tidak biasa – menghadirkan rumah sakit dan kantor 100 lantai, Pollux Properties Group selaku pengembang turut menggandeng Keluarga Besar Presiden ke -3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf (B.J) Habibie melalui bendera PT Pollux Barelang Megasuperblok atau yang biasa dikenal dengan brand Pollux Habibie International.

Tak ayal, kehadiran keluarga Habibie pada proyek ini sempat menghentak publik. Maklum, melalui PT Regio Aviasi Industri, keluarga besar BJ Habibie dikenal membangun perusahaan yang bergerak dalam bidang perancangan, pengembangan, dan manufaktur pesawat terbang.

Sementara, melalui Grup Ilthabi Rekatama, perusahaan keluarga ini hanya memfokuskan diri pada empat bidang bisnis, yaitu Teknik Informasi, industri Manufaktur, Sumber daya alam serta Finansial Jasa Keuangan, bukan bisnis properti.

“Sejujurnya kita tidak punya rencana untuk terjun ke bisnis properti dan memang fokus kita bukan ke bisnis tersebut. Karena itu kalau ditanya apa rencana ke depannya di bisnis properti, jawabannya hanya itu. Bisnis properti sebatas proyek di Batam saja,” ujar Ilham Akbar Habibie, putra sulung dari BJ Habibie sekaligus tercatat sebagai Komisaris Utama di PT Pollux Barelang Megasuperblok.

Kepada Properti Indonesia, Peraih Ph.D dengan predikat summa cum laude dari Technical University of Munich, Jerman ini bercerita banyak hal mengenai bisnis properti yang kini tengah digelutinya — satu dari sekian banyak jabatan-jabatan strategis lain yang diembannya. Wawancara dilakukan di kantornya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Berikut petikannya.

Bisa diceritakan latar belakang pengembangan proyek Meisterstadt Batam?

Itu bermula ketika ibu saya (Almarhumah Hasri Ainun Habibie-red) membeli tanah sekitar 20 tahun yang lalu. Tanahnya agak besar yaitu seluas 9 hektar. Rencana semula, tanah itu akan digunakan untuk membangun rumah sakit. Namun, karena lahannya cukup luas, ya sudah kita kembangkan dengan properti yang lebih besar. Akhirnya, kita mencari partner untuk bisa membantu. Dan, jadilah seperti sekarang.

Kepemilikan lahan tersebut apakah dibawah perusahaan Ilthabi Rekatama juga?

Bukan Ilthabi, namun perusahan baru namanya PT Rumah Sakit Barelang. Jadi perusahaan inilah yang memiliki hak atas tanah itu.

Bagaimana awal mula bisa melakukan kerjasama dengan Pollux Properties Group?

Awalnya kami yang mencari beberapa perusahaan untuk berpartner. Dan, saat itu tawaran menarik datang dari Pollux Properties. Dan, akhirnya kita berparner sampai sekarang.

Siapa yang merancang konsep Meisterstadt ?

Dua-duanya, tapi yang paling utama adalah Pollux. Jadi mereka yang buat perencanaan, kita diskusikan dengan komposisi 50:50. Untuk saham, mereka lebih prioritas karena punya saham sedikit lebih banyak dari kita. Sejauh mana Anda memahami pengembangan suatu proyek properti, termasuk persoalan marketing, dan lainnya

Di awal saya sempat duduk di posisi Komisaris Utama, namun saat ini saya sudah mengundurkan diri dari jabatan tersebut karena terbentur peraturan OJK terkait posisi jabatan di beberapa perusahaan. Meski begitu, saya tetap operational involve dan mengawasi direksi. Terkait dengan strategi atau rencana kerja ke depan itu juga harus wajib diketahui oleh perusahaan. Tapi kalau bicara mengenai strategi marketing, saya tahu secara garis besar saja.

Siapa yang mengusulkan nama Meisterstadt, apakah Bapak BJ Habibie?

Nama itu berasal dari tim. Jadi Bapak (BJ Habibie) sama sekali tidak terlibat dalam hal konsep pada proyek ini. Hanya membeli tanah bersama ibu beberapa tahun lalu.

Apa sebenarnya visi yang ingin dihadirkan pada proyek Meisterstadt?

Proyek Meisterstadt ini menghadirkan beberapa dimensi dari ada aspek penghunian, aspek komersial, aspek perkantoran, kesehatan dan pendidikan. Jadi memang stadt itu kan berarti kota, meister ya master dari bahasa Jerman. Pada proyek ini semua aspek perkotaan harus kita kembangkan secara vertikal. Kalau dihitung secara total, nantinya akan ada sekitar 8 ribu orang yang akan menginap atau bertempat tinggal di Meisterstadt.

Adakah pesan dari Bapak Habibie untuk project Meisterstadt?

Pesan mungkin lebih kepada pengembangan rumah sakit. Karena rumah sakit itu wasiat ibu. Almarhumah Ibu kan dokter, memang semangatnya dulu mau membangun rumah sakit. Rumah sakitnya tentu harus melayani masyarakat dengan baik dan kita harus mencoba untuk mendapatkan teknologi dan ilmu kedokteran yang baik terutama dari Jerman. Tidak semuanya dari Jerman tapi link kami dengan Jerman itu banyak.

Bagaimana dengan rencana pengembangan rumah sakit tersebut?

Saya belum bisa banyak komentar di situ, sudah dimulai tapi masih awal sekali. Lebih baik kita membangun yang lain dulu.

Bisnis keluarga besar Habibie lebih dikenal melalui bendera Ilthabi Rekatama, apakah tidak aka rencana untuk melakukan ekspansi bisnis di bidang properti?

Bisnis kami sebetulnya banyak berubah. Dulu kita memang sempat punya bisnis properti tapi semuanya kita jual pada awal 2000-an. Kemudian kita memfokuskan diri ke industri manufacturing, disusul sumber daya alam yaitu pertambangan. Tapi bisnis itu juga lagi proses jual, karena saya tidak terlalu suka sama bisnis tersebut. Kita juga ada bisnis di bidang infrastruktur, pelabuhan, stasiun kereta api, IT termasuk jasa keuangan.

Apakah saat ini ada perusahaan developer lain yang mengajak Anda untuk berpartner?

Belum ada, saya juga tidak begitu tertarik.

Menurut Anda industri properti di Indonesia saat ini seperti apa?

Saya kira, pertama saya bukan player jadi gak begitu tahu secara mendalam. Namun, dengar-dengar dari teman kalau saat ini Jakarta susah. Terlalu banyak produk yang over supply, mungkin juga soal harga yang terlalu mahal. Padahal, dari segi kredit sudah cukup mendukung, jadi bukan soal dukungan finansial tapi lebih ke kondisi pasar sendiri. Yang saya lihat dari segi konsep saat ini proyek-proyek properti sudah banyak yang berkembang dan berubah. Tentunya sesuatu yang positif.

Apa kritik Anda untuk industri properti di Indonesia?

Menurut saya, dalam soal membeli properti kita masih sangat konservatif, mungkin menurut saya terlalu protektif. Untuk asing, misalnya. Kalau sekarang boleh membeli dengan nilai properti di atas Rp750 juta. Kenapa tidak di bawah itu, asal oke. Orang selalu takut kalau masuk ke sini nanti overheated. Kalau kita terlalu konservatif nanti sayang, sebab uang yang beredar di pasar sebagian tidak bisa masuk ke Indonesia ya karena persoalan tadi.

Itu tren umum di Indonesia, gak boleh ini, gak boleh itu. Saya sih gak heran kalau kita Cuma 5% pertumbuhan ekonomi, karena kenapa, protektif menurut saya.

Harusnya seperti apa?

Harus pro pasar. Kalau saya lihat dari segi peraturan saja cepat sekali berubah. Jadi orang gak yakin ini bener gak jadi seperti itu. Atau tiba-tiba berubah lagi. Jadi banyak orang kadang-kadang tidak yakin mengenai kepastian dari segi peraturan itu sendiri. Itu umum di semua bidang.

Seandainya Anda mendapat kesempatan untuk mengembangkan properti lagi, proyek apa yang akan dibangun?

Saya melihat peluang bisnis karena kita lebih ke situ. Apa yang diperlukan di kawasan tersebut itu yang dikembangkan.

Berarti mengenyampingkan idealisme?

Kalau dalam bisnis itu perlu dua-duanya. Idealisme perlu untuk kita mempunyai motivasi. Tapi di lain sisi kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan. Jadi dua-duanya itu penting. Kalau terlalu berorientasi komersial kadang-kadang tidak ada jiwa dalam bisnis itu ya. Tapi kalau kita hanya idealisme saja gak jalan-jalan, gagal.

Terus terang, saat ini kita gak eager untuk mengembangkan properti lagi saat ini. Karena sebagai pengusaha kita punya kapital terbatas dan waktu terbatas. Kalau saya bebani lagi proyek-proyek lain bakal kewalahan. Mungkin, suatu ketika kalau proyek Meisterstadt sudah berjalan, tapi ini kan perlu waktu berapa tahun, masih panjang.** MPI

BIODATA
PENDIDIKAN
Technical University of Munich, Germany (Faculty of Mechanical Engineering, Sub-Faculty Aeronautical Engineering (1981-1986)
Diploma Ingenieur (Technical University of Munich, Jerman) dengan hasil akhir Cum Laude (1987)
Doktor Ingenieur (Technical University of Munich, Jerman) dengan hasil akhir Summa Cum Laude (1994)
International Executive Program, INSEAD, Fontainbleau, France, and Singapore (1999)
MBA (School of Business, Universitas Chicago) (2003)
KARIER
Boeing: 1994-1996
Direktur Marketing PT Dirgantara Indonesia
Ketua Dewan TIK Nasional [1]
Presiden Direktur PT Ilthabi Rekatama[2]
Presiden Direktur PT ILTHABI Bara Utama
CEO di PT ILTHABI Rekatama
Komisaris PT. Pollux Barelang Mega Superblok Batam
Komisaris Bank Muamalat

Wawancara lengkap dengan Ilham Akbar Habibie dimuat dalam edisi Majalah Properti Indonesia (MPI) bulan lalu (April).

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia